Subsitusi Impor Ditargetkan Bisa Tembus Rp 152 Triliun di 2022

Program substitusi impor dan mendorong akselerasi pertumbuhan industri pada 2021, akan diimplementasikan ke dalam empat program utama.

oleh Liputan6.comDiperbarui 09 Februari 2021, 20:51 WIB
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara halalbihalal secara virtual di Jakarta. (Dok Kemenperin)

Liputan6.com, Jakarta

Load More

Hilirisasi Industri

Aktivitas bongkar muat kontainer di dermaga ekspor impor Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Sementara itu, upaya hilirisasi industri juga ditempuh lewat pengembangan industri smelter, antara lain meliputi pemurnian nikel, nikel kobalt, alumunium, tembaga dan besi baja.
 
Saat ini secara total RI punya 30 smelter yang beroperasi, sedangkan yang tahap konstruksi 20 smelter dan dalam tahap feasibility study sebanyak 9 smelter.
 
Kemenperin bertekad mendorong penguatan hilirasi industri pertambangan dan memperkokoh struktur industri dalam negeri.
 
“Implikasi dari kebijakan ini, industri logam dasar pada 2020 tumbuh 5,87 persen, kemudian ekspornya pun tumbuh 30 persen, bahkan menyumbang devisa negara hingga USD22 miliar,” tandasnya.
 
Reporter: Anggun P. Situmorang
 
Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya