BMKG: Butuh Puluhan Tahun Lagi untuk Terjadi Gempa Besar di Sulbar

BMKG telah memasang peralatan untuk melakukan perhitungan percepatan pergerakan tanah di sekitar Mamuju serta melakukan pemetaan sebaran kerusakan.

oleh Liputan6.comDiperbarui 19 Januari 2021, 18:20 WIB
Ilustrasi Gempa (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pusat Seismologi Teknik BMKG, Rahmat Triyono, memaparkan tren gempa bumi yang terjadi di Sulawesi Barat. Dia mengatakan, trennya berbeda dengan gempa di Palu sebelumnya. Bahkan, kata dia, trennya sangat jarang terjadi.

"Percepatan pergerakan sesar gempa bumi Palu dan Mamuju sangat berbeda, di Palu sekitar 35mm/tahun sedangkan di Mamuju sekitar 10-15mm/tahun. Tentunya tingkat aktivitas di Mamuju sangat jauh berbeda pergeserannya dengan di Palu," kata Rahmat dalam konferensi pers virtual BMKG, Selasa (19/1/2021).

BMKG mencatat, hingga Senin 18 Januari 2021, hanya terdapat 31 kali gempa bumi di Mamuju dan sebagian besar tidak dirasakan. Sementara itu, gempa susulan yang terjadi di Palu mencapai ratusan bahkan ribuan kali dalam sehari. Berdasarkan data tersebut, BMKG belum mampu menyimpulkan, kapan gempa susulan akan berakhir.

"Apabila trennya masih tinggi dan jumlahnya terus bertambah, artinya gempa susulannya juga akan panjang. Namun di tabel BMKG sudah menurun drastis. Harapannya hal ini tidak akan berlangsung lama," ucap Rahmat.

Rahmat menjelaskan, potensi adanya gempa susulan sebenarnya merupakan bagian dari pelepasan energi.

 

Load More

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Butuh Puluhan Tahun

"Jadi setiap kali kejadian gempa bumi yang besar selalu akan diikuti oleh gempa-gempa susulan dan tentunya intensitasnya lama-kelamaan akan menurun. Pada akhirnya akan berhenti, Mamuju akan normal kembali. Butuh beberapa puluh tahun kemudian untuk terjadi gempa lagi," ucapnya.

Untuk itu, BMKG telah memasang peralatan untuk melakukan perhitungan percepatan pergerakan tanah di sekitar Mamuju serta melakukan pemetaan sebaran kerusakan. Selain itu, akan dilakukan pemeriksaan ke lapangan terhadap informasi peta guncangan.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka.com

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya