Liputan6.com, Jakarta Melissa Blake seorang aktivis disabilitas yang lahir dengan kelainan tulang dan otot genetik langka atau disebut Freeman-Sheldon syndrome, berkesempatan berpartisipasi di New York Fashion Week sebagai model.
Melissa mengungkapkan bahwa semasa remaja ia pernah sakit hati mendengar impiannya untuk menjadi ikon fashion dicemoooh karena dirinya yang memiliki [disabilitas](https://www.liputan6.com/disabilitas/read/4413355/kemendes-dan-ugm-canangkan-desa-inklusif-yang-ramah-difabel ""). Yang membuatnya sakit hati secara gamblang adalah sikap sejumlah orang yang menegaskan batasan bahwa tidak ada tempat bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke ranah fashion.
Advertisement
Namun kini setelah 20 tahun berlalu, siapa sangka mimpi Melissa akhirnya terwujud, ia menjadi model di New York Fashion Week (NYFW). "Rasanya seperti kemenangan bagi saya, tentu saja, tapi ini kemenangan besar untuk representasi disabilitas dalam mode," katanya.
Menurutnya, kini representasi penyandang disabilitas meingkat dalam segala hal, lain dengan saat dulu, saat-saat ia merasa sangat putus asa.
"Saya ingin percaya, meskipun pandemi telah merampas begitu banyak kesehatan penyandang disabilitas dan akses ke layanan yang dibutuhkan, perlu juga merevisi stigma terhadap apa yang kita (penyandang disabilitas) kenakan dan bagaimana kita mengekspresikan diri," katanya, seperti dikutip CNN.
"Saya selalu mengagumi mode, tetapi saya tidak pernah berpikir saya akan benar-benar menjadi bagian darinya suatu hari nanti. Seperti kebanyakan remaja lainnya, saya tumbuh di tahun 1990-an dengan membaca majalah seperti Cosmopolitan dan Glamour, di mana halaman-halamannya dipenuhi oleh orang-orang seperti Cindy Crawford dan Naomi Campbell. Saat saya membalik setiap halaman yang mengilap, saya selalu berharap untuk melihat wanita cacat seperti saya, tetapi saya tidak pernah melakukannya."
"Kenyataannya adalah mereka tidak ada di sana, dan ketidakhadiran ini ada hubungannya dengan standar kecantikan masyarakat kita seperti halnya dengan mode itu sendiri. Standar kecantikan yang ketat ini menentukan apa yang dianggap cantik dan tidak dan, secara default, dapat diterima."
Simak Video Berikut Ini:
Promosi fesyen ke NYFW
Melissa sangat berterima kasih atas keberadaan organisasi seperti Runway of Dreams, organisasi nirlaba yang didirikan oleh Mindy Scheier yang terinspirasi putranya Oliver. Oliver ingin berpakaian seperti teman-temannya, tetapi karena memiliki bentuk distrofi otot yang langka, ia pun kesulitan mengatur kancing atau risleting celana jeans biasa. Melihat perjuangan anaknya tersebut, Mindy segera menyadari betapa banyak orang cacat berjuang untuk menemukan pakaian yang modis dan fungsional.
Enam tahun kemudian, organisasi tersebut mempromosikan inklusi dalam industri fesyen ke NYFW, yang menjadi virtual tahun ini selama Covid-19. Melissa yang berkesempatan menjadi salah satu model pakaian adaptif bersama lebih dari 25 orang difabel lainnya, memakai pakaian adaptif dari Zappos Adaptive, Tommy Hilfiger, Target, Kohl's dan Stride Rite.
"Kami masing-masing memodelkan pakaian kami dalam segmen video yang kami rekam dari kenyamanan rumah dan "catwalk" kami diselingi dengan cerita kami tentang hidup dengan disabilitas dan apa artinya bagi kami untuk melihat industri fashion memberi ruang bagi kami alih-alih menutup kami, seperti dulu," kata Melissa.
Bukan rahasia lagi bahwa industri fashion juga terkena dampak pandemi. Dari cara belanja hingga merasakan fashion itu sendiri akan selamanya berubah dan bagian dari perubahan itu, fashion menjadi lebih mudah diakses. Misalnya akan semakin banyak yang menyediakan secara online, itu artinya juga penyandang disabilitas juga dapat dengan mudah mengaksesnya secara langsung dengan mudah.
Ditambah lagi, adanya NYFW online tahun ini sebenarnya memungkinkan lebih banyak orang untuk menontonnya. Artinya, semakin banyak orang (baik disabilitas maupun non-disabilitas) yang bisa melihat fashion show yang penuh representasi disabilitas.
"Fakta bahwa peragaan busana virtual yang seluruhnya terdiri dari orang-orang difabel di NYFW adalah revolusioner; itu bukan sesuatu yang dulu bisa kita lihat bahkan hanya 10 tahun yang lalu," kata Melissa.
Representasi disabilitas juga kini menjadi semakin meluas. Merek pakaian mulai melihat kebutuhan akan fashion yang melayani penyandang disabilitas. Tahun ini saja, 'Target' sekali lagi merilis lini kostum adaptif mereka untuk anak-anak penyandang disabilitas dan merek adaptif 'In' akhirnya meluncurkan dua lini pakaian dalam adaptif dan koleksi pakaian tidur yang dirancang khusus untuk perempuan penyandang disabilitas.
"Rasanya seperti saya adalah bagian dari revolusi mode komunitas penyandang disabilitas. Saat kami memikirkan aksesibilitas untuk difabel, kami biasanya memikirkan hal-hal besar seperti bangunan. Tetapi akses fashion juga harus berlaku untuk difabel," kata Melissa.
Scheier mengaku sangat senang terlebih jika membayangkan anaknya nanti akan tumbuh di dunia yang inklusif, yang percaya bahwa penyandang disabilitas sama pentingnya. Juga mengetahui bahwa dirinya termasuk ke dalam sejarah perubahan tersebut.