PBB: 2020 Menjadi Tahun Peningkatan Pembunuhan Massal di Kolombia

PBB mendefinisikan pembunuhan massal sebagai pembunuhan terhadap tiga orang atau lebih pada suatu waktu.

oleh Teddy Tri Setio BertyLiputan6.comDiterbitkan 04 Oktober 2020, 07:03 WIB
Nancy Quinonez, 30, ibu dari Luis Motano, 15, satu dari 5 pemuda yang dibunuh pada 12 Agustus dan ditemukan di ladang tebu dekat rumah, berpose dengan foto putranya di Cali pada 31 Agustus 2020. Pembunuhan kembali berdarah di pedesaan Kolombia. Korbannya kebanyakan masih muda. (Luis ROBAYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Kolombia telah mencatat sedikitnya 42 peristiwa pembunuhan massal sejak awal 2020.

Ini merupakan angka tertinggi sejak pemerintah Kolombia menandatangani kesepakatan perdamaian dengan kelompok gerilyawan FARC pada 2016, kata sebuah laporan yang dirilis PBB, Kamis (1/10).

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Minggu (4/10/2020) PBB, yang bertanggung jawab memverifikasi pemberlakuan kesepakatan tersebut, mengatakan Sekjen Antonio Guterres merasa prihatin dengan meningkatnya pembunuhan massal di berbagai wilayah di negara Amerika Selatan itu pada beberapa bulan terakhir.

PBB mendefinisikan pembunuhan massal sebagai pembunuhan terhadap tiga orang atau lebih pada suatu waktu.

PBB mengatakan, 13 insiden pembunuhan massal lainnya saat ini masih sedang diverifikasi.

Misi Perdamaian PBB di Kolombia mencatat adanya 36 pembunuhan massal pada 2019, 29 pada 2018 dan 11 pada 2017.

“Kejahatan ini terutama terjadi di kawasan-kawasan miskin yang nyaris tidak terjangkau pemerintah, di mana bentrokan sering terjadi antara kelompok-kelompok bersenjata dan organisasi-organisasi kriminal, “ kata laporan itu.

Load More

Simak video berikut ini:

Penyebab Peningkatan

Gladys Betancourth, 51, ibu dari Oscar Obando, 24, satu dari 8 pemuda yang dibunuh dalam pesta di pinggiran Samaniego, Kolombia pada 16 Agustus, berpose dengan foto putranya pada 2 September 2020. Pembunuhan kembali berdarah di pedesaan Kolombia. Korbannya kebanyakan masih muda. (Luis ROBAYO/AFP)

Menurut pemerintah Kolombia, peningkatan kekerasan di negara itu terjadi karena aksi-aksi kelompok-kelompok bersenjata yang mendanai kegiatan mereka melalui penyelundupan narkoba.

PBB juga mencatat masih berlanjutnya kekerasan terhadap mantan anggota kelompok FARC.

Sekitar 50 orang anggota kelompok itu tewas sejak awal 2020. Jika hitung dari hari penandatanganan kesepakatan, 224 anggota FAR telah tewas sementara 20 lainnya menghilang.

PBB juga mencatat adanya peningkatan kekerasan terhadap para aktivis HAM dan pemimpin masyarakat madani. Empat puluh delapan di antara mereka dibunuh tahun ini, termasuk sembilan orang dari kelompok-kelompok minoritas etnik dan lima perempuan.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya