639 Calon Guru Penggerak Lulus Seleksi

Iwan Syahril menyebut gagasan guru penggerak demi mencetak aktor pendidikan yang bisa membawa nafas perubahan ke arah yang lebih baik.

oleh Yopi Makdori diperbarui 17 Agu 2020, 09:27 WIB
Guru mengenakan masker saat mengajar siswa SD secara tatap muka di Sekolah Islam Ibnu Aqil Ibnu Sina, Soreang, Bandung, Jawa Barat, Rabu (5/8/2020). Indonesia akan mengizinkan sekolah di zona hijau COVID-19 melakukan pembelajaran tatap muka di bawah protokol kesehatan yang ketat. (Xinhua/Septianjar)

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 639 calon pendamping guru penggerak lulus seleksi Program Guru Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kelulusan mereka diumumkan langsung di akun instagram, @ditjen.gtk.kemdikbud, Senin (17/8/2020)

Awalnya, jumlah pendaftar mencapai 697 peserta. Semuanya mengikuti seleksi tahap 2 pada 17 Juli sampai dengan 5 Agustus 2020. Dari jumlah tersebut, peserta yang lulus hanya 639 orang yang akan diwajibkan untuk mengikuti pembekalan calon pendamping.

Calon pendamping pendidikan guru penggerak yang lulus seleksi tahap 2, akan diikutkan pada pembekalan calon pendamping pendidikan guru penggerak, yang akan dilaksanakan pada Agustus atau September 2020. Informasi tentang pembekalan calon pendamping pendidikan guru penggerak akan disampaikan kemudian.

2 dari 2 halaman

Untuk Perubahan Lebih Baik

Direktur Jenderal GTK Kemendikbud, Iwan Syahril menyebut gagasan guru penggerak demi mencetak aktor pendidikan yang bisa membawa nafas perubahan ke arah yang lebih baik.

"Melalui kebijakan Merdeka Belajar, program Guru Penggerak dirancang agar dapat mencetak sebanyak mungkin agen-agen transformasi dalam ekosistem pendidikan," kata Direktur Jenderal GTK Kemendikbud, Iwan Syahril di Jakarta, Rabu (15/7/2020).

Para Guru Penggerak, kata dia, dipersiapkan agar mampu mencetak murid-murid berkompetensi global dan berkarakter Pancasila dan mendorong transformasi pendidikan Indonesia. Kemudian mendorong peningkatan kepemimpinan murid, menjadi pelatih atau mentor bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat pada murid, dan mengembangkan diri secara aktif.

Ia menambahkan Guru penggerak lahir dari semangat Merdeka Belajar.

"Filosofinya semua harus bergerak dan maju bersama-sama, menumbuhkan empati sosial untuk menggerakkan yang lainnya. Bergotong royong, tidak hanya maju sendirian atau hanya sebagian," katanya.

Program Guru Penggerak, katanya, berfokus pada pedagogi, serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik. Pada angkatan pertama, seleksi calon Guru Penggerak akan dibuka untuk guru-guru jenjang TK, SD, SMP, dan SMA.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya