Wapres: Terorisme Sudah Lama Ada di Indonesia

"Pelaku peledakan di Bali harus dihukum berat. Ancaman ini tak pandang bulu. Mereka tak akan dilindungi dan tak kebal hukum," kata Hamzah, geram.

oleh Liputan6Diterbitkan 16 Oktober 2002, 00:01 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sikap Wakil Presiden Hamzah Haz soal terorisme di Indonesia berubah. Bila sebelumnya ia terus menyangkal adanya gerakan terorisme di Tanah Air, kini Hamzah mengakuinya. Hal ini dibuktikan dengan ledakan di Legian dan Renon, Bali, yang menewaskan lebih dari 180 orang. "Ini adalah ulah teroris," ujar Hamzah seusai mengikuti Sidang Kabinet di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Senin (14/10) [baca: Ledakan Dahsyat Mengguncang Bali dan Manado].

Menurut Hamzah, teroris memang sudah lama ada di Indonesia. Namun, teroris yang ada tak terkait dengan tokoh-tokoh Islam radikal, seperti Ketua Front Pembela Islam Habib Rizieq Shihab, Panglima Laskar Jihad Djafar Umar Thalib, dan pimpinan Majelis Mujahiddin Indonesia Abu Bakar Ba`asyir. Soalnya, hingga saat ini, mereka memang tak terbukti terlibat dalam aksi teror [baca: Wapres: Intelijen Tak Mampu Deteksi Ancaman].

Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan ini menduga, ledakan di Pulau Dewata adalah rekayasa teror dari kelompok tertentu. Itulah sebabnya, dia meminta para pelaku dihukum berat. "Ancaman ini tak pandang bulu. Mereka (pelaku-red) tak akan dilindungi dan tak kebal hukum," kata Hamzah, geram. Sayangnya, ia tak menjelaskan kelompok tertentu yang dimaksud.

Ditemui di tempat terpisah, Abu Bakar Ba`asyir secara tegas menolak dirinya dikaitkan dalam peledakan di Bali. Sebaliknya, dia malah menuduh Amerika Serikat berada di balik insiden tersebut [baca: Menapak Jejak Teror di Bali]. Tujuan akhir AS, menurut Ba`asyir, adalah membabat habis gerakan Islam di dunia.

Tudingan pengasuh Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Surakarta, Jawa Tengah, ini bukan tak berdasar. Dia menunjukkan sejumlah indikasi keterlibatan AS. Satu di antaranya adalah soal jumlah korban tewas. Menurut Ba`syir, warga AS yang tewas dalam insiden Bali sangatlah sedikit. Selain itu, teknologi perangkat bom dengan daya ledak tinggi juga hanya dikuasai oleh AS. "Jadi memang tak mungkin bila orang Indonesia yang melakukannya," kata Ba`asyir.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya