Liputan6.com, Surabaya: Bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya, Jawa Timur, tergolong unik. Rumah ibadah yang baru rampung 70 persen itu memadukan arsitek Cina Tiongkok dan Islam Jawa. Masjid ini sengaja dibangun Persatuan Imam Tauhid Indonesia (PITI) Jatim untuk mengenang Laksamana Cina Haji Mohamad Cheng Hoo yang muhibah ke kerajaan di Nusantara.
Akulturasi budaya dalam tata ruang masjid kentara sekali pada bangunan utama yang berukuran 11 X 9 meter dengan delapan sisi. Angka-angka itu memiliki makna filosofis dari budaya Islam, Jawa, dan Cina. Angka 11 sebagai ukuran pembangunan Kabah pertama dan 9 menjadi lambang Wali Songo atau sembilan wali penyebar agama. Sedangkan angka 8 melambangkan pat kwa yang dalam bahasa Tiongkok berarti keberuntungan dan kejayaan.
Masjid yang didirikan komunitas muslim Tionghoa ini berkapasitas 200 jemaah. Pembagunan tempat ibadah umat Islam ini dimaksudkan sebagai media transisi bagi mualaf yang masih malu-malu berjamaah dengan kaum muslim lain. Sedangkan nama Cheng Hoo dipilih untuk mengingatkan bahwa Islam bagi komunitas Cina bukan hal baru. Sebab, sebelum masuk Jawa, Islam terlebih dahulu menyebar di Cina.
Di sisi masjid juga dibuat relief Cheng Hoo dengan kapal pesiarnya. Karya seni tersebut menjadi bukti keeratan hubungan Indonesia dan Negeri Tirai Bambu pada masa lampau. Baik kedekatan akibat relasi perdagangan, pergaulan, dan budaya.(TNA/Hasan Sentot dan Joko Sulistyo Budi)
Akulturasi budaya dalam tata ruang masjid kentara sekali pada bangunan utama yang berukuran 11 X 9 meter dengan delapan sisi. Angka-angka itu memiliki makna filosofis dari budaya Islam, Jawa, dan Cina. Angka 11 sebagai ukuran pembangunan Kabah pertama dan 9 menjadi lambang Wali Songo atau sembilan wali penyebar agama. Sedangkan angka 8 melambangkan pat kwa yang dalam bahasa Tiongkok berarti keberuntungan dan kejayaan.
Masjid yang didirikan komunitas muslim Tionghoa ini berkapasitas 200 jemaah. Pembagunan tempat ibadah umat Islam ini dimaksudkan sebagai media transisi bagi mualaf yang masih malu-malu berjamaah dengan kaum muslim lain. Sedangkan nama Cheng Hoo dipilih untuk mengingatkan bahwa Islam bagi komunitas Cina bukan hal baru. Sebab, sebelum masuk Jawa, Islam terlebih dahulu menyebar di Cina.
Di sisi masjid juga dibuat relief Cheng Hoo dengan kapal pesiarnya. Karya seni tersebut menjadi bukti keeratan hubungan Indonesia dan Negeri Tirai Bambu pada masa lampau. Baik kedekatan akibat relasi perdagangan, pergaulan, dan budaya.(TNA/Hasan Sentot dan Joko Sulistyo Budi)