Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran adanya mutasi virus Corona membesar menyusul kabar dari Beijing. Varian yang muncul di ibu kota Tiongkok itu berbeda dari tempat asal virus merebak di Wuhan.
Lantas, patutkah kita cemas menghadapi mutasi terbaru virus Corona yang sebelumnya sudah membuat dunia kelimpungan?
Advertisement
Peneliti biologi molekuler Ahmad Utomo menjelaskan, kita harus tahu terlebih dahulu definisi mutasi. Definisi mutasi bisa berbeda bagi orang awam dan orang yang berkecimpung sebagai ilmuwan.
"Definisi mutasi bisa berbeda antara orang awam dan ilmuwan. Saya tidak mengatakan sebagai mutasi virus Corona, melainkan lebih kepada variasi. Kalau kita bicara mutasi memang harus melihat lebih spesifik lagi. Gambarannya, apakah spesiesnya sama atau punya fungsi berbeda," jelas Ahmad melalui sambungan telepon kepada Health Liputan6.com, Jumat (19/6/2020).
"Pada virus Sars-CoV-2 secara genom, kekerabatannya yang paling dekat dengan virus dari kelelawar sebanyak 96 persen. Kalau kita kelompokkan semua genom yang sudah di-sequence (diurutkan), termasuk genom dari Lembaga Molekuler Eijkman dan Universitas Airlangga ada 13 genom, total sekitar 20.000 genom. Itu kesamaan genomnya 99,9 persen. Dari segi genom virus Corona, variasinya termasuk banyak."
Genom dan Vaksin COVID-19
Dilihat dari sisi virus Corona, mungkin dia hanya ingin mereplikasi dan memperbanyak diri. Pada pandangan manusia, Ahmad menjelaskan, hal itu disebut mutasi, yang dapat memperparah gejala. Hal itulah yang kemudian menimbulkan kecemasan, khawatir vaksin Covid-19 tidak berpengaruh.
Untuk target pembuatan vaksin Covid-19, pada umumnya menyasar protein yang kerap disebut Crown atau tanduk pada SARS-CoV-2. Ini karena tanduk yang menyelimuti virus Corona merupakan lokasi transmisi untuk menempel pada sel-sel tubuh manusia.
"Sars-CoV-2 ini punya protein spike (protein yang menempel pada tubuh manusia dan menginfeksi tubuh) yang ada pada 'tanduknya' (Seperti diketahui, bentuk virus Corona ini seperti memiliki tanduk pada setiap sisinya). Biasanya publik khawatir kalau ada mutasi, jadi vaksinnya enggak berpengaruh lagi. Tapi so far, dari puluhan ribu genom SARS-CoV-2 belum ada mutasi yang signifikan di daerah tersebut (protein spike)," Ahmad melanjutkan.