Virus Corona Bermutasi, Vaksin Covid-19 Masih Efektif?

Patutkah kita cemas menghadapi mutasi terbaru virus Corona yang sebelumnya sudah membuat dunia kelimpungan?

oleh Liputan6.comDiterbitkan 20 Juni 2020, 10:35 WIB
Gambar ilustrasi Virus Corona COVID-19 ini diperoleh pada 27 Februari 2020 dengan izin dari Centers For Desease Control And Prevention (CDC). (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran adanya mutasi virus Corona membesar menyusul kabar dari Beijing. Varian yang muncul di ibu kota Tiongkok itu berbeda dari tempat asal virus merebak di Wuhan.

Lantas, patutkah kita cemas menghadapi mutasi terbaru virus Corona yang sebelumnya sudah membuat dunia kelimpungan?

Peneliti biologi molekuler Ahmad Utomo menjelaskan, kita harus tahu terlebih dahulu definisi mutasi. Definisi mutasi bisa berbeda bagi orang awam dan orang yang berkecimpung sebagai ilmuwan.

"Definisi mutasi bisa berbeda antara orang awam dan ilmuwan. Saya tidak mengatakan sebagai mutasi virus Corona, melainkan lebih kepada variasi. Kalau kita bicara mutasi memang harus melihat lebih spesifik lagi. Gambarannya, apakah spesiesnya sama atau punya fungsi berbeda," jelas Ahmad melalui sambungan telepon kepada Health Liputan6.com, Jumat (19/6/2020).

"Pada virus Sars-CoV-2 secara genom, kekerabatannya yang paling dekat dengan virus dari kelelawar sebanyak 96 persen. Kalau kita kelompokkan semua genom yang sudah di-sequence (diurutkan), termasuk genom dari Lembaga Molekuler Eijkman dan Universitas Airlangga ada 13 genom, total sekitar 20.000 genom. Itu kesamaan genomnya 99,9 persen. Dari segi genom virus Corona, variasinya termasuk banyak."


Genom dan Vaksin COVID-19

Gambar menggunakan mikroskop elektron yang tak bertanggal pada Februari 2020 menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 (kuning) muncul dari permukaan sel (merah muda) yang dikultur di laboratorium. Sampel virus dan sel diambil dari seorang pasien yang terinfeksi COVID-19. (NIAID-RML via AP)

Dilihat dari sisi virus Corona, mungkin dia hanya ingin mereplikasi dan memperbanyak diri. Pada pandangan manusia, Ahmad menjelaskan, hal itu disebut mutasi, yang dapat memperparah gejala. Hal itulah yang kemudian menimbulkan kecemasan, khawatir vaksin Covid-19 tidak berpengaruh.

Untuk target pembuatan vaksin Covid-19, pada umumnya menyasar protein yang kerap disebut Crown atau tanduk pada SARS-CoV-2. Ini karena tanduk yang menyelimuti virus Corona merupakan lokasi transmisi untuk menempel pada sel-sel tubuh manusia.

"Sars-CoV-2 ini punya protein spike (protein yang menempel pada tubuh manusia dan menginfeksi tubuh) yang ada pada 'tanduknya' (Seperti diketahui, bentuk virus Corona ini seperti memiliki tanduk pada setiap sisinya). Biasanya publik khawatir kalau ada mutasi, jadi vaksinnya enggak berpengaruh lagi. Tapi so far, dari puluhan ribu genom SARS-CoV-2 belum ada mutasi yang signifikan di daerah tersebut (protein spike)," Ahmad melanjutkan.

Lanjut Baca:

"Kembali lagi ke pertanyaan, vaksin Covid-19 nanti kira-kira ampuh enggak? So far, selama enggak ada mutasi yang berarti ya enggak ada masalah. Adanya variasi SARS-CoV-2 juga belum dilaporkan menemukan suatu kekhawatiran terhadap pengembangan vaksin Covid-19." Dalam hal ini, variasi virus Corona yang dilaporkan, belum ada satupun yang menunjukkan bisa memengaruhi efek jenis vaksin yang akan dikembangkan. Terkait dampak variasi SARS-CoV-2 terhadap penyakit, hingga saat ini belum ada data yang jelas. "Kita sudah ada data genom, tapi tidak ditautkan dengan data pasien. Untuk mengetahui, seberapa makin parah atau ganas virus, ya harus tahu dong, virus dengan sequence ini berkaitan (dengan) gejala pasien seperti apa. Selama ini, data di GISAID hanya sequence genom saja," lanjut Ahmad. "Tidak ada laporan variasi sequence genom tertentu yang mana membuat pasien kondisinya lemah, parah, berat, kritis, dan meninggal. Yang mana itu (genom) kita enggak tahu. Lalu dari variasi sequence genom, pasien mana saja yang diabetes, hipertensi, dan penyakit komorbid lain juga enggak tercatat. Secara keseluruhan, pola mutasi (variasi) yang ada, belum ada bukti genom mana yang lebih berbahaya dan bikin gejala parah."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya