The Last Dance: Tarian Terakhir Michael Jordan dkk, Sang Legenda Chicago Bulls

The Last Dance, dipinjam dari istilah yang digunakan pelatih Phil Jackson untuk tahun terakhirnya di Chicago Bulls.

oleh Ratnaning AsihDiterbitkan 06 Mei 2020, 20:20 WIB
The Last Dance, dipinjam dari istilah yang digunakan pelatih Phil Jackson untuk tahun terahirnya di Chicago Bulls. (ESPN/ Netflix via IMDb)

Liputan6.com, Jakarta The Last Dance, film dokumenter tentang Chicago Bulls—salah satu klub tersukses dalam sejarah NBA—dibuka dengan suasana murung. Siluet sang bintang, Michael Jordan, disorot kamera dari belakang, dengan punggung sedikit membungkuk.

“Memasuki musim NBA 1997-98, Chicago Bulls telah memenangkan lima kejuaraan selama tujuh tahun sebelumnya. Namun saat mereka hendak mengejar three peat kedua, masa depan dari dinasti ini tengah berada dalam kegamangan,” begitu narasi pembuka dalam The Last Dance.

The Last Dancedipinjam dari istilah yang digunakan pelatih Phil Jackson untuk tahun terahirnya di Chicago Bulls, pada musim NBA 1997-1998.

Masa sebelum tim legenda yang beranggotakan Dennis Rodman, Scottie Pippen, hingga Michael Jordan, memasuki masa penuh tanda tanya soal masa depan.


Michael Jordan

The Last Dance (ESPN/ Netflix via IMDb)

The Last Dance terdiri dari sepuluh episode, yang masing-masing menampilkan satu topik utama. Episode perdana, tentu saja membahas tentang sang megabintang: Michael Jordan.

Menonton porsi Michael Jordan dalam The Last Dance bagaikan menyaksikan sebuah film dengan formula from zero to hero.

Sebelum mendapat pengakuan, ia awalnya menyandang nama Mike Jordan. Remaja tanggung yang bahkan sempat tak lolos dalam audisi tim basket SMA-nya. Kala itu, ia sempat mengadu pada ibunya sambil menangis.

Namun—seperti cerita-cerita dalam komik basket remaja—Michael Jordan tak pantang menyerah. Ia terus berlatih, dan kebetulan, tinggi badannya juga tumbuh dengan pesat. Ia mulai merangkak di dunia basket kampus.

Sampai kemudian, satu tembakan di detik-detik terakhir pertandingan NCAA tahun 1982, membangkitkan nyala api di hatinya dan membuatnya percaya diri untuk menyandang persona yang akhirnya kini melegenda: Michael Jordan. 


Rekaman Eksklusif

The Last Dance. (YouTube/ ESPN)

Narasi yang disusun dari kepingan-kepingan fakta dan footage eksklusif yang baru dibuka sekarang, menjadi salah satu kekuatan utama The Last Dance. Dari banyolan Michael Jordan kerap di ruang pemain, suasana latihan yang panas, hingga tensi tinggi usai pertandingan yang tak berjalan sesuai rencana.

Bahkan sengitnya suasana pertandingan pun bisa terbawa lewat cerita para pemain yang didukung oleh rekaman dokumentasi, termasuk yang diambil dari tahun 70-an.

Lanjut Baca:

Sementara itu, meski masing-masing episode punya fokus yang berbeda, setiap bagian ini masih berhubungan dalam sejumlah benang merah. Mulai dari dinamika membangun tim, persaingan dengan Detroit Pistons, dan salah satu yang paling panas: ketegangan antara para pemain dan pihak manajemen. Michael Jordan dkk, adalah para petarung di lapangan basket: berusaha menjebol ring lawan sampai sampai wasit meniup peluit tanda pertandingan selesai. Tapi pihak manajemen memiliki mental pebisnis: apa pun dilakukan demi menjaga komoditas mereka. Yang perlu menjadi catatan penonton, adalah manajer Chicago Bulls, Jerry Krause. Ia seakan berada dalam posisi antara antagonis dan sosok korban bullying dalam dokumenter ini. Di sisi lain, Jerry Krause telah meninggal dunia pada 2017 lalu, sehingga otomatis tak bisa memberikan sudut pandangnya terhadap berbagai peristiwa di film ini. Untuk itu, ada baiknya penonton menimbangnya dari perspektif lain.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya