'Popoji Kering Nyanda Kerja' di Mal, Gadis Manado Pilih Pulang Kampung

'Popoji kering nyanda kerja'. Habis sudah uang karena tidak lagi bekerja, itulah yang dialami Silvia dan rekannya di salah satu departement store. Akibat pandemi corona covid-19, mereka diliburkan. Lalu, bagaimana Silvia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya?

oleh Yoseph Ikanubun diperbarui 01 Mei 2020, 01:00 WIB
Silvia Senteh, karyawan di Matahari Dept Store Megamall Manado.

Liputan6.com, Manado - Pengurangan aktivitas warga, termasuk sektor bisnis karena pandemi Covid-19 membuat banyak karyawan kehilangan pekerjaan. Ada yang nasibnya sedikit lebih baik, diberhentikan sementara sambil menunggu situasi kembali normal.

"Saya memilih untuk pulang kampung, karena mau tinggal di kos sudah tidak ada kerja. Libur sampai waktu yang tidak ditentukan, atau tidak ada kepastian," ungkap Silvia Senteh, karyawan di Matahari Dept Store Megamall Manado.

Sudah 7 tahun Silvia bekerja di pusat perbelanjaan terkemuka di Manado itu. Ketika situasi masih normal, dia bisa bekerja di dua shift secara bergantian, yakni pagi mulai pukul 09.00–17.00 Wita dan siang pada 14.00–22.00 Wita.

"Tapi saat pandemi Covid-19, traffick costumer menurun sampai sepi. Omzet menurun, hingga tak ada penjualan," ujar gadis yang bekerja sambil kuliah di salah satu universitas di Manado ini.

Silvia menuturkan, pada masa awal pandemi Covid-19, dia bersama rekan-rekannya masih tetap masuk kerja. Hanya saja jadwal kerja jadi satu sif, hingga pada akhirnya diliburkan pada 29 Maret 2020 lalu.

Dengan sistem upah harian, pembayaran gaji hanya sesuai hari kerja saja. "Karena enggak masuk kerja, enggak ada gaji," ujarnya.

Dalam situasi seperti ini, dia memilih pulang ke kampungnya di Desa Tontalete, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut.

"Aktivitas cuma di rumah saja, bantu orangtua masak, bersih-bersih rumah. Juga mengerjakan tugas kuliah," ujarnya.

Terbiasa dengan aktivitas di Manado yang lumayan padat, dan kini terpaksa harus tinggal di rumah saja, tenty membuatnya jenuh. Untuk menghilangkan kejenuhan itu, sekaligus mencari tambahan penghasilan, dia membuka konter penjualan pulsa di rumahnya.

"Sekaligus bisa untuk transaksi elektonik misalnya pembayaran BPJS, token multifinance dan lainnya," ujarnya.

Dia mengatakan, ada peluang bisnis kecil-kecilan. Apalagi di kampungnya tidak ada jasa melayani pembayaran via online.

"Sebelumnya warga harus ke kampung sebelah untuk bisa transaksi itu semua, sekarang bisa saya layani," dia mengatakan.

Di sisi lain, dia mengaku ada hikmah yang didapat dengan pandemi Covid-19 ini, yakni bisa berkumpul bersama keluarga di kampung. 

"Apalagi ini bulan Ramadan," ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Meski sudah mulai terbiasa dengan aktivitasnya di rumah, tetapi Silvi tetap masih menginginkan agar bisa bekerja kembali dan melanjutkan kuliah di Manado.

"Pas sudah satu bulan saya di rumah, menunggu kepastian untuk bekerja lagi," ujarnya kepada Liputan6.com, Kamis (30/4/2020).

Dia berharap pandemi Covid-19 ini cepat berakhir agar sektor ekonomi bisa kembali bergeliat. Sehingga tidak ada lagi pekerja yang dirumahkan, atau harus diberhentikan.

"Semoga masyarakat terus patuh dengan anjuran pemerintah untuk tetap stay at home, dan pandemi ini cepat berakhir," ujarnya memungkasi.

Simak juga video pilihan berikut:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya