Antara Stigma Penderita Hingga Solidaritas Kemanusiaan Seputar Covid-19

Menurutnya, dokter Sonia Wibisono, Kemenkes memiliki dua strategi dalam mengatasi dampak kesehatan dari tersebarnya Covid-19 di Indonesia.

oleh Liputan6.com diperbarui 27 Apr 2020, 11:50 WIB
Antara Stigma Penderita Hingga Solidaritas Kemanusiaan Seputar Covid-19. foto: istimewa

Liputan6.com, Jakarta - Dokter sekaligus influencer Sonia Wibisono membagi pengalaman saat dirinya berkesempatan bersilaturahmi sekalian memberi dukungan moral kepada Menkes Terawan Agus Putranto dan staf di Kemenkes RI.

"Sedikit sharing tentang strategi Kemenkes dalam menangani Covid-19, lanjutan cerita saya kemarin di Kantor Kemenkes,” terang dr Sonia Wibisono lewat perbincangan virtual di Jakarta, 26 April 2020.

Setelah sekitar delapan minggu infeksi Covid-19 di Indonesia, dokter Sonia menuturkan semakin mengenal karakteristik virus ini, menyesuaikan dengan perkembangan yang cepat.

Menurutnya, saat ini Kemenkes memiliki dua strategi dalam mengatasi dampak kesehatan dari tersebarnya virus Covid-19 di Indonesia. Pertama adalah pemerintah berupaya menekan penyebaran virus yang cepat agar tidak terjadi overload di fasilitas kesehatan.

Lalu memberikan penekanan kejadian dengan melakukan protokol WHO yakni memastikan physical distancing, hidup sehat, dan hidup bersih yang terus dikampanyekan secara masif melalui telemedicine.

Kata Menkes Terawan, seperti yang diteruskan informasinya oleh dr Sonia, masyarakat Indonesia telah berhasil untuk langkah tersebut, terbukti dari rawat inap di beberapa Rumah Sakit telah menunjukkan angka penurunan.

“Kemenkes sangat mengapresiasi kerja keras masyarakat Indonesia semua dalam upaya melawan Covid-19,” ucap Menteri Terawan ditirukan Sonia.

Yang kedua adalah tracing. Tracing selain yang dilakukan oleh surveillance dari kasus positif, ada juga tracing dilakukan oleh telemedicine dari skrining digital di aplikasi handphonenya.

"Skrining digital bagi yang masuk kriteria dilakukan rapid test sebagai deteksi dini. Rapid test bisa mengetahui adanya IgG dan IgM pada tubuh. Yang tidak pernah disangka ternyata di masyarakat lebih banyak yang memiliki IgG dari pada IgM. Ini artinya plasmanya bisa disumbangkan untuk menyelamatkan pasien yang rentan," terang Duta Kesehatan PBB ini.

Dokter Sonia menambahkan Kemenkes juga sedang berusaha mencari IgG di masyarakat.  "Kemenkes berjuang agar semua masyarakat yang terkena Covid-19 bisa selamat. Yang kuat bisa sembuh sendiri, kelompok yang rentan dibantu oleh plasma orang yang sembuh agar penyakitnya cepat teratasi dan sembuh juga,” demikian pernyataan Kemenkes RI tiru Sonia sambil memperlihatkan data telemedicine yang ternyata IgG (sembuh) 10 kali dari IgM (sakit).

Terapi Plasma Konvalesen sendiri adalah produk kaya antibodi yang dibuat dari darah yang disumbangkan oleh orang-orang yang telah pulih dari penyakit yang disebabkan oleh virus.

dr Sonia Wibisono (Aditia Saputra/Liputan6.com)

Pengalaman dari Tiongkok menunjukkan bahwa plasma konvalesen memiliki potensi untuk mengurangi keparahan atau mempersingkat lama penyakit yang disebabkan oleh Covid-19. Sejumlah uji klinis juga dilakukan untuk mengevaluasi keamanan dan kemanjuran plasma konvalesen yang dilakukan oleh FDA dan Mayo Klinik ini membuktikan keefektifan cara ini.

Banyak pasien-pasien yang telah memakai ventilator bisa sembuh dan berkumpul kembali ke keluarganya tercinta. Dokter Sonia menyebut Terapi Plasma Konvalesen ini bisa menghapus stigma, karena orang yang terinfeksi dan sembuh justru bisa membantu suatu saat orang-orang yang rentan jika terinfeksi.

Bahkan Kemenkes RI menegaskan bahwa penyakit ini mengajarkan tentang pentingnya solidaritas yang tertinggi. Bagaimana yang kuat jika terifeksi ketika sembuh dapat mendonorkan plasmanya ke orang yang terinfeksi yang memiliki kerentanan. Satu orang donor bahkan bisa menyelamatkan 2-4 nyawa sekaligus. Sungguh terpuji dan luar biasa hikmah Covid-19 ini.

"Saya merenung betapa dahsyatnya wabah kemanusiaan ini. Tidak sekedar wabah tetapi langsung membawa obatnyadan menjadikan saling membantu sebagai syarat agar semua bisa selamat," ungkap dokter cantik ini.

Dokter Sonia menceritakan bagaimana kawannya yang Staf Khusus Menteri Kesehatan dr. Mariya Mubarika mengatakan : "Tidak ada bantuan yang lebih berharga daripada menyelamatkan nyawa seseorang."

"Kalau Anda ada waktu masuk ke aplikasi start up telemedicine yang telah menjadi mitra kementerian kesehatan RI di https://covid-monitoring.kemkes.go.id/telemedicine. Di sana bisa mengisi skrining digital, dan akan di tentukan apakah anda perlu dilakukan rapid test atau tidak?

Rapid test yang dihasilkan bisa diketahui apakah anda dalam kondisi sakit atau sudah memiliki imunitas. "Jika telah memiliki IgG artinya anda bisa ikut serta menolong orang-orang yang rentan,"ucap dr Sonia Wibisono.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya