Mentan Syahrul Yasin Limpo Ingatkan Petani Jangan Terjebak Praktek Ijon

Mentan mengatakan bahwa KUR juga memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 20 April 2020, 20:00 WIB
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di acara peringatan Hari Kopi Nasional yang dihelat di Auditorium Gedung F Kementerian Pertanian, Rabu (11/3/2020). (Dok Kementan)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengunjungi salah satu sentra produksi Jagung dan padi di Sulawesi Selatan yaitu Jenoponto.Dalam kunjungannya, Mentan mendorong petani jagung untuk memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

Syahrul menjelaskan, KUR dapat menghindarkan petani lokal dari praktek ijon yang merugikan. KUR juga memastikan kesejahteraan bagi para petani di seluruh Indonesia dan membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

"Ada KUR pertanian sebesar Rp 50 triliun. Manfaatkan itu. Kalau ada ijon atau tengkulak, saya minta Dinas pertanian koordinasi dengan Dirjen PSP, gulirkan KUR di sini," kata SYL melalui keterangan tertulis, Senin (20/4/2020).

Mentan kemudian mengajak para petani jagung lokal untuk memperbaiki proses pengolahan jagung, seperti dilakukan penjemuran sehingga mempengaruhi kualitas jagung untuk harga jual yang lebih tinggi. Di samping itu, perantara juga diingatkan untuk membeli jagung hasil petani lokal sesuai harga pokok penjualan yang telah ditetapkan pemerintah.

"Jangan beli jagung dari petani Rp 1.700, sesuai HPP-lah. Harga beli itu Rp 3.150. Jangan beli dibawah HPP, " Imbuh dia.

Alhasil dibutuhkannya kerjasama dalam membangun sektor pertanian di masa pandemi global virus covid-19. Sehingga kegiatan produksi dan distribusi sektor pertanian tetap berjalan.

"Saya mengajak kepolisian dengan Satgas Pangan-nya, Bulog, pelaku usaha, TNI. Ini panggilan negara. Kita pastikan kebutuhan pangan masyarakat aman. Bantu negara ini yah dek, " tandas Mentan.

 

Terjebak

Pada Februari-Maret ini di beberapa sentra produksi Jagung yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung tercatat sedang melakukan panen raya.

Sementara itu, Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, melaporkan bahwa terdapat 26 ribu hektar sawah di Kabupaten Jeneponto dengan produktivitas 5 hingga 6 ton per hektar serta 36 ribu hektar jagung dengan produktivitas 7,8 ton per hektar.

Kendati demikian, petani lokal justru terjebak dalam praktek ijon. Musababnya kadar air jagung yang diinginkan para pengepul adalah 7 persen, sementara petani tidak melakukan perlakuan paska panen sehingga hasil panen langsung dijual dengan kadar air mencapai 30 persen yang mempengaruhi harga jual jagung.

"Tapi saya sampaikan sedikit kendala Pak Menteri. Untuk komoditas jagung, sebagian petani menjual hasilnya ke daerah lain dikarenakan ada selisih harga. Kadar air jagung petani disini mencapai 30 persen, harganya Rp 1.700 per kilogram. Sementara di tempat lain, Rp 1.800 per kilo gram," pungkasnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya