Malmo- Zlatan Ibrahimovic tipikal pemain yang kenyang dengan sentuhan banyak pelatih berkelas dunia. Diawal saat membela Malmo FC hingga kini kembali ke AC Milan.
Kisah Zlatan dan pelatihnya yang paling fenomenal tentu saja di Barcelona. Pemain asal Swedia tersebut terang-terangan mengaku tidak suka dengan Pep Guardiola. Saking tidak sukanya, cerita konflik dirinya dengan Guardiola saat di Barcelona ditempatkan pada bab pertama otobiografinya berjudul "I Am Zlatan, My Story on and of the Field".
Advertisement
Jika terang-terangan mengaku tak akur dengan Guardiola, Zlatan Ibrahimovic dengan terbuka juga memuji Jose Mourinho. Hubungan keduanya cukup hangat, saat bekerja sama di Inter Milan dan Manchester United. Bahkan, Zlatan pernah bilang "siap mati di lapangan" untuk Mourinho.
Selain dua sosok tersebut, Zlatan Ibrahimovic juga mengungkap cerita menarik tentang pelatihnya saat membela Juventus selama dua musim, pada 2004-2006. Saat itu, Juventus diarsiteki pelatih kharismatik Fabio Capello.
Ternyata Capello merupakan sosok pelatih yang mampu membuat Zlatan mati kutu. Menurut Zlatan, tak ada pemain yang berani membantah atau beradu argumen dengan Capello. Aura Capello membuat pemain mengkerut, setidaknya menurut Zlatan.
Fabio Capello bisa dibilang mampu membikin Zlatan Ibrahimovic gemetar. Seperti yang dituangkan pada otobiografinya. Dia bercerita suatu hari dipanggil Capello.
"Fabio Capello, mungkin pelatih tersukses di Eropa dalam 10 tahun terakhir saat itu. Dia memanggil saya dan saya berpikir, apa yang saya lakukan sekarang? Seluruh ketakutan saya waktu masih bocah tentang pertemuan langsung kembali, dan Capello bisa bikin setiap orang grogi," urai Zlatan.
"Wayne Rooney pernah bilang ketika Capello (saat menjadi pelatih Timnas Inggris) berjalan melintasi koridor, sesaat terasa Anda seperti mati. Itulah kenyataannya. Dia biasanya hanya mengambil kopi dan melewati Anda tanpa memperhatikan. Rasanya nyaris mengerikan," ujar Zlatan Ibrahimovic.
Tak Berani Menatap Mata Capello
Zlatan Ibrahimovic pernah mendapat cerita bahwa pemain-pemain Italia terkadang tak patuh dengan instruksi pelatih. Mereka tak mau melompat begitu saja karena pelatih menginstruksikan seperti itu. Namun, mengabaikan pelatih tidak berlaku untuk Capello.