Kisah Susy Susanti Peraih Medali Emas Olimpiade 1992

Susy Susanti tercatat sebagai peraih medali emas pertama Olimpiade untuk Indonesia.

oleh Benediktus Gerendo PradigdoDiterbitkan 29 Maret 2020, 11:20 WIB
Susy Susanti. (AFP)

Jakarta- Legenda bulutangkis putri Indonesia, Susy Susanti, tercatat sebagai atlet Indonesia pertama yang meraih medali emas di level Olimpiade. Susy Susanti dan Alan Budikusuma, yang kemudian menjadi suaminya, mampu mempersembahkan dua medali emas pertama Indonesia di level Olimpiade pada tahun 1992 di Barcelona.

Dalam sejarah bulutangkis di level Olimpiade, cabang olahraga tersebut memang untuk pertama kalinya digelar sebagai perebutan medali pada 1992, setelah pada 1972 menjadi cabang demonstrasi dan 1988 menjadi cabang ekshibisi.

Susy Susanti sukses mempersembahkan medali emas pertama Indonesia setelah 40 tahun sejak pertama kalinya mengikuti Olimpiade 1952. Dalam hitungan satu jam, Alan Budikusuma menyusulnya mempersembahkan medali emas kedua Indonesia setelah mengalahkan kompatriotnya, Ardy B. Wiranata.

Kali ini, Bola.com akan khusus membahas mengenai Susy Susanti dan keberhasilannya meraih emas pertama Indonesia di Olimpiade 1992, di mana keberhasilan tersebut mengharumkan nama bangsa dan membuatnya menjadi legenda bulutangkis Indonesia.

Susy Susanti mengawali kiprah di Olimpiade 1992 di babak kedua setelah mendapat bye. Ia menghadapi tunggal putri Jepang, Harumi Kohara, yang juga mendapatkan bye di babak pertama.

Susy terbilang tidak mengalami kendala di awal turnamen. Tunggal putri Indonesia itu menang mudah 11-2 dan 11-2 atas pebulutangkis Jepang tersebut, di mana itu berlanjut di babak ketiga, di mana Susy Susanti menang 11-4 dan 11-2 atas pebulutangkis Hong Kong, Wong Chun Fan.

Perjalanan Susy memang terbilang mudah hingga ke final. Pada perempat final, Susy kembali menang mudah 11-6 dan 11-1 atas pebulutangkis Thailand, Somharuthai Jaroensiri, yang berlanjut dengan kemenangan atas pebulutangkis China, Huang Hua, dengan skor 11-4 dan 11-1 di semifinal.

Susy Susanti pun membuka peluang yang sangat besar untuk menyabet medali emas pertama Indonesia. Namun, di laga puncak tunggal putri bulutangkis Olimpiade 1992 itu, Susy Susanti tidak bisa dengan mudah memenangi laga.


Hadapi Rival Berat di Final

Legenda Bulutangkis Indonesia, Susi Susanti.

Pebulutangkis Korea Selatan, Bang Soo-hyun, adalah lawan yang harus dihadapi Susy Susanti di laga final bulutangkis Olimpiade 1992. Dalam sejarah kariernya, Bang Soo-hyun memang akhirnya dikenal sebagai rival utama Susy Susanti di tunggal putri.

Lanjut Baca:

Bang Soo-hyun adalah pebulutangkis yang berhasil membawa tim Korea Selatan menyabet Piala Sudirman 1991 di Copenhagen, di mana mereka berhasil mengalahkan Susy Susanti dkk. di laga final. Pertemuan keduanya di final Olimpiade 1992 tentu menjadi pertunjukan yang menarik. Namun, berbeda dengan Susy yang terbilang cukup mudah mencapai final, Bang Soo-hyun cukup mendapatkan tantangan. Mendapatkan bye di babak pertama, Bang Soo-hyun mengalahkan pebulutangkis Swedia, Catrine Bengtsson, dengan skor 11-7 dan 11-3 di babak kedua. Kemudian pebulutangkis Jepang, Hisako Mizui, menjadi korban kedua Bang Soo-hyun di babak ketiga, di mana Bang menang 12-10 dan 11-1. Dalam laga perempat final, Bang Soo-hyun mendapatkan adangan dari pebulutangkis Indonesia, Sarwendah Kusumawardhani. Bahkan Sarwendah membuatnya kesulitan dalam pertandingan ini dengan merebut gim kedua dan memaksa rubber gim berjalan sengit hingga akhir pertandingan. Namun, Bang Soo-hyun tetap mampu menang 11-2, 3-11, dan 12-11. Beruntung bisa mengalahkan Sarwendah di perempat final, Bang Soo-hyun kemudian lolos ke final dengan mudah setelah menang 11-3 dan 11-2 atas pebulutangkis China, Tang Jiuhong. Laga kontra Susy Susanti pun menjadi final yang ideal. Bang Soo-hyun mampu membuat Susy kesulitan di gim pertama. Susy hanya diberikan lima poin di gim pertama itu. Namun, Susy mampu membalasnya di gim kedua. Giliran Bang Soo-hyun yang diberikan hanya lima poin di gim tersebut. Akhirnya, Susy Susanti mampu memastikan medali emas bulutangkis Olimpiade 1992 itu menjadi miliknya setelah memenangi gim ketiga dengan skor telak 11-3.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya