Menghirup Segarnya Udara Pagi di Bali saat Nyepi

Bali tengah melaksanakan Nyepi sebagai wujud perayaan pergantian Tahun Baru Saka 1942

oleh Dewi Divianta diperbarui 25 Mar 2020, 06:00 WIB
Ilustrasi Nyepi di Bali | unsplash.com

Liputan6.com, Denpasar Hari ini, Rabu (25/3/2020), umat Hindu Bali tengah merayakan Nyepi. Nyepi merupakan momentum suci sebagai penanda datangnya Tahun Baru Saka 1942.

Saat Nyepi, ada empat pantangan yang tak boleh dilakukan warga Bali. pantangan itu yakni amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang.

Selama 24 jam umat Hindu Bali akan berdiam diri di dalam rumah, tepatnya mulai pukul 06.00 Wita pada Rabu (25/3/2020) hingga pukul 06.00 Wita pada Kamis (26/3/2020).

Selama berdiam diri di rumah, tak boleh ada yang menyalakan lampu. Jaringan penerangan umum di jalan raya pun dimatikan. Bali gelap gulita. Tak ada orang yang keluar rumah, apalagi berseliweran di jalan menggunakan kendaraan. Bandara berhenti beroperasi, begitu juga dengan pelabuhan. Jaringan internet dan televisi pun diputus sementara. 

Otomatis, Bali bebas polusi selama 24 jam. Bisa dibayangkan kualitas udara yang begitu bersih saat Nyepi. Tak tercemat polusi apapun, baik dari kendaraan bermotor maupun yang lainnya.

Jika Anda keluar rumah pada pagi hari, kualitas udara Bali begitu nikmat untuk dihirup. Sangat sejuk. Suara hewan di sekitar pepohonan rindang menambah suasana semakin syahdu. Pandu, seorang wisatawan asal Jakarta baru kali pertama merasakan Nyepi di Bali.

Ia datang ke Pulau Dewata untuk urusan bisnis. Kebetulan bisnisnya belum bisa ditinggalkan, sehingga ia harus merasakan bagaimana umat Hindu Bali menjalankan tapa brata penyepian.

“Ini baru kali pertama saya merasakan Nyepi di Bali. biasanya hanya lihat di televisi saja,” kata Pandu saat berbincang dengan Liputan6.com  di Kedai 28, Jalan Tukad Balian I Nomor 1G, Sanggulan, Tabanan, Selasa (24/3/2020). Sehari sebelum perayaan Nyepi dilaksanakan, biasanya warga Bali akan mengarak ogoh-ogoh keliling kota.

Namun, karena wabah COVID-19 yang masif terjadi di Indonesia, pawai ogoh-ogoh ditiadakan pada tahun ini. Sontak masyarakat lebih memilih berdiam diri di rumah mengikuti anjuran pemerintah.

Jalanan yang biasanya padat manusia untuk melihat parade ogoh-ogoh justru tampak lengang. Sebagian warga bahkan sudah mematikan jaringan listrik di rumah pribadinya maupun di areal bisnis seperti ruko dan warung-warung.

Lalu lalang kendaraan bisa dihitung setiap menitnya. “Belum juga Nyepi udaranya sudah terasa beda. Mungkin karena tak banyak kendaraan yang melintas. Segar sekali rasanya,” cerita Pandu.

Ya, begitulah Bali. saat Nyepi, ketika semua aktivitas terhenti untuk memberikan waktu bagi bumi ‘beristirahat’ sejenak, udara begitu bersih, jernih tanpa polusi. Selamat hari raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1942.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya