BKMG: Tren Gas Rumah Kaca Jadi Salah Satu Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia

Jika dibandingkan dari beberapa tahun sebelumnya, suhu di Indonesia naik hingga kurang lebih 1 derajat Celcius setiap tahunnya.

oleh Liputan6.com diperbarui 25 Feb 2020, 19:30 WIB
Warga menggunakan payung saat hujan mengguyur kawasan Jakarta, Senin (3/2/2020). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis informasi peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga Rabu (5/2/2020) mendatang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan, tren kenaikan gas rumah kaca menjadi salah satu penyebab cuaca ekstrem di Indonesia.

"Terjadi kenaikan suhu di wilayah Indonesia, salah satunya disebabkan oleh kenaikan gas rumah kaca, ini juga mengakibatkan timbulnya cuaca ekstrem," ujar Dwikorita dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Menurutnya, emisi gas rumah kaca di Indonesia lebih rendah dibanding dunia. Meski begitu, Dwikorita menyebut, penyumbang terbesar emisi gas berbahaya itu berasal dari asap kendaraan dan industri pabrik yang semakin meningkat.

Di sisi lain, kata dia, jumlah penghijauan sebagai penyerap zat tersebut terus mengalami penurunan.

"Emisi gas rumah kaca mengalami peningkatan di Indonesia, meskipun relatif sedikit lebih rendah daripada rata-rata emisi gas rumah kaca di dunia. CO2 ini diakibatkan antara lain kendaraan transportasi, industri pabrik yang tidak ramah lingkungan, hingga hijau daun sebagai penyerap CO2 yang terus berkurang," papar Dwikorita.

Jika dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, kata dia, suhu di Indonesia naik hingga kurang lebih 1 derajat Celcius setiap tahunnya. Banten dan Riau menjadi kota yang paling signifikan mengalami kenaikan suhu.

BMKG pun mengimbau, perlu adanya penanganan khusus dari pihak terkait agar kejadian ini tidak terulang setiap tahunnya.

"Apabila kejadian ini tidak dimitigasi tentunya kejadian cuaca ekstrem ini akan terus terjadi bahkan setiap tahun. Oleh sebab itu, hal ini harus segera ditangani," pungkas Dwikorita.

 

(Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya