Liputan6.com, Jakarta: Kecelakaan pesawat Fokker-27 milik TNI Angkatan Udara di di Kompleks Rajawali, kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu merupakan kesalahan manusia (human error). Demikian dikatakan pengamat penerbangan Arista Atmadji di Jakarta, Ahad (24/6).
“Usia pesawat yang sudah tua juga bisa menjadi faktor penyebab, terutama jika perawatan pesawat dilakukan secara tidak ketat,” kata Arista. “Pesawat Fokker-27 diproduksi pada 1975 dan mulai digunakan pada 1977. Pabrik pesawat itu sudah tutup, sehingga menyulitkan pemeliharaan pesawat.”
Pesawat Fokker-27 dipakai TNI Angkatan Udara sejak 1977 dan menjadi ujung tombak skuadron udara dua, yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pesawat dengan panjang badan 25 meter lebih itu memiliki kapasitas penumpang antara 48-56 orang, dengan tiga awak. Kecepatan jelajah pesawat itu mencapai 518 kilometer per jam.
Fakta menyebutkan, pesawat sejenis telah sembilan kali mengalami kecelakaan. Pada April 2009, pesawat Fokker-27 jatuh di Bandung, Jawa Barat, dan mengakibatkan 24 penumpangnya tewas.
Sejak kecelakaan di Bandung, pemerintah memerintahkan untuk mengandangkan seluruh pesawat Fokker-27. Ketika masyarakat mulai lupa peristiwa itu, ternyata pesawat itu masih digunakan. Padahal perawatan pesawat itu terganjal suku cadang, sehingga sering dilakukan dengan cara kanibal [baca: Pesawat Tua Terus Berjatuhan].
Pada 21 Juni lalu, pesawat Fokker-27 jatuh dan menimpa sejumlah rumah di Kompleks Rajawali. Sesaat setelah pesawat jatuh, api dengan cepat membakar delapan rumah [baca: Pesawat TNI AU Jatuh].
Akibat musibah itu, tujuh awak pesawat dan empat warga sipil tewas. Hingga kini, penyebab jatuhnya pesawat masih dalam penyelidikan pihak TNI Angkatan Udara.(SHA)
“Usia pesawat yang sudah tua juga bisa menjadi faktor penyebab, terutama jika perawatan pesawat dilakukan secara tidak ketat,” kata Arista. “Pesawat Fokker-27 diproduksi pada 1975 dan mulai digunakan pada 1977. Pabrik pesawat itu sudah tutup, sehingga menyulitkan pemeliharaan pesawat.”
Pesawat Fokker-27 dipakai TNI Angkatan Udara sejak 1977 dan menjadi ujung tombak skuadron udara dua, yang bermarkas di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Pesawat dengan panjang badan 25 meter lebih itu memiliki kapasitas penumpang antara 48-56 orang, dengan tiga awak. Kecepatan jelajah pesawat itu mencapai 518 kilometer per jam.
Fakta menyebutkan, pesawat sejenis telah sembilan kali mengalami kecelakaan. Pada April 2009, pesawat Fokker-27 jatuh di Bandung, Jawa Barat, dan mengakibatkan 24 penumpangnya tewas.
Sejak kecelakaan di Bandung, pemerintah memerintahkan untuk mengandangkan seluruh pesawat Fokker-27. Ketika masyarakat mulai lupa peristiwa itu, ternyata pesawat itu masih digunakan. Padahal perawatan pesawat itu terganjal suku cadang, sehingga sering dilakukan dengan cara kanibal [baca: Pesawat Tua Terus Berjatuhan].
Pada 21 Juni lalu, pesawat Fokker-27 jatuh dan menimpa sejumlah rumah di Kompleks Rajawali. Sesaat setelah pesawat jatuh, api dengan cepat membakar delapan rumah [baca: Pesawat TNI AU Jatuh].
Akibat musibah itu, tujuh awak pesawat dan empat warga sipil tewas. Hingga kini, penyebab jatuhnya pesawat masih dalam penyelidikan pihak TNI Angkatan Udara.(SHA)