Playing With Fire: Lucu Tapi Nyaris Tanpa Konflik

Playing with Fire ujug-ujug tayang di jaringan bioskop mulai Jumat (10/1/2020).

oleh Wayan DianantoDiterbitkan 14 Januari 2020, 06:00 WIB
Poster film Playing with Fire. (Foto: Paramount Player)

Liputan6.com, Jakarta - Playing with Fire ujug-ujug tayang di jaringan bioskop mulai Jumat (10/1/2020). Menempatkan mantan pegulat John Cena sebagai pemeran utama yang jadi orang tua dadakan, Playing With Fire mengingatkan kita pada sejumlah film.

Sebelum Playing with Fire, ada Tooth Fairy (Michael Lembeck, 2010) yang dibintangi Dwayne Johnson alias The Rock. Pada 2005, Vin Diesel juga mengasuh anak di film The Pacifier karya Adam Shankman. Film dengan tema seperti ini jarang memenangkan hati para kritikus.

Playing with Fire menguatkan citra tersebut. Di luar negeri, Playing with Fire dihujani kritik pedas. Apakah performa John Cena dan kawan-kawan sejelek itu? Berikut ulasan kami.


Nakalnya Anak-anak

Adegan film Playing with Fire. (Foto: Paramount Player)

Kisah Playing with Fire bermula ketika petugas smoke-jumper Jake Carson (John) bersama tiga rekannya yakni Mark Rogers (Keegan), Rodrigo Torres (John Leguizamo), dan Axe (Tyler) mendatangi sebuah rumah yang terbakar. Di dalam rumah itu, ada Brynn (Brianna), Will (Christian), dan Zoey (Finley) yang meringkuk di bawah meja.

Jake menyelamatkan adik beradik ini dan membawanya ke markas smoke-jumper di California woodland. Sejak itu markas tak pernah tenang. Anak-anak ini nakal. Brynn misalnya beberapa kali mencuri kunci mobil untuk melarikan diri. Will menumpahkan deterjen dan menyiramnya dengan air. Walhasil garasi mobil dipenuhi busa. Zoey mengarahkan pistol paku ke teman-teman Jake dan nyaris mencederai mereka.

Beberapa kali Jake menelepon orang tua Brynn, Will, dan Zoey tapi gagal. Tak tahan, Jake minta tolong Dr. Amy Hicks (Judy) untuk mengendalikan kenakalan mereka. Seiring waktu, anak-anak tak semengerikan yang dibayangkan Jake.


Lelah Menanti Konflik

Adegan film Playing with Fire. (Foto: Paramount Player)

Kami menonton jam 21.15 dan konflik film ini baru terasa pada jam 22.35. Selama penantian itu, kami disuguhi dua jenis adegan. Pertama, penggambaran aktivitas Jake sebagai smoke-jumper. Kedua, kenalakan anak-anak dari lucu sampai menjengkelkan. Saking jengkelnya, kami tidak bisa bersimpati pada bocah-bocah ini.

Kondisi diperburuk dengan materi lelucon yang mayoritas slapstick. Salah ambil alat untuk membersihkan kotoran di mobil lalu ditutupi dengan kesalahan lain yang tak kalah bodoh hingga semua menjadi kacau.

Lanjut Baca:

Sebenarnya, komedi slapstick tidak salah. Asal, pergerakan kamera dan penyuntingan gambarnya lincah. Yang terjadi dalam Playing with Fire, pergerakan kamera difungsikan hanya mengantar adegan. Tidak melucu. Lalu disunting sebatas rapi. Tanpa menekankan di mana letak lucunya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya