Liputan6.com, Jakarta Masih di ruang rias, lokasi syuting sinetron di Kebagusan, Jakarta.
"Gue yang terlalu naif dan sok suci atau memang Aidan yang kurang ajar sih, Iz?" tanyaku sambil sesenggukan. Faiz masih memelukku erat-erat.
Advertisement
"Dia sudah berkali-kali ngajakin gue begituan tapi gue enggak mau. Sesimpel karena gue memang enggak mau. Gue hanya mau memberikan itu ke cowok yang memang suami gue," imbuhku, sebelum Faiz merespons. Ia masih mengusap-usap punggungku lantaran aku menangis sampai tubuh bergetar.
Beberapa menit setelah tenang, Faiz melepaskan peluknya.
"Lo enggak salah. Seluruh dunia tahu itu. Dia penjahat wanita. Seluruh dunia juga tahu itu. Putus semalam lebih baik daripada putus tiga tahun kemudian dalam kondisi lo udah kebobolan berkali-kali. Jadi, setop menangis dan jangan menoleh lagi ke belakang. Oke?" kata Faiz dengan raut serius.
Faiz Menyeka Air Mataku
Seumur-umur kenal Faiz, baru kali ini aku melihat mukanya serius. Ia mengambil tisu dan menyeka air mataku dengan kertas tipis warna putih itu. Faiz lantas merapikan rambutku sebelum pintu ruang riasku diketuk seorang kru. Faiz membukanya.
"Mbak Lintang, besok callingan pagi lagi, ya. Jam 8 sampai Kebagusan ya, Mbak," ujar Sabudi Rajani, asisten sutradara kesayanganku. Orangnya sabar banget, santun dan lembut. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Ah, andai semua artis datang tepat waktu kayak Mbak Lintang, para kru sinetron hidupnya bakal merdeka. Makasih Mbake," seloroh Sabudi sambil menutup pintu.
"Sabudi ini lama-lama ganteng juga ya, Bo," cetus Faiz kepadaku, spontan.
"Gue catok bibir lo!" sahutku dengan nada bicara meninggi. Kami kemudian terbahak.
CCTV Berjalan
"Iz, apa karena Aidan cinta pertama ya. Jadi rasanya sakit banget pas diputusin dia? Semalam itu dada rasanya sesak banget. Gue baru bisa nangis setelah tiba di apartemen. Nangis pun enggak bisa bikin gue langsung lega," keluhku kemudian.
Aidan cinta pertamaku. Keluarga besarku mayoritas laki-laki. Kakak papaku punya tiga anak laki-laki semua. Adik Papaku, anaknya dua juga laki-laki semua. Kakak mamaku punya tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan namanya Andina Madrim.