Kilas Balik SEA Games: Emas Timnas Indonesia di 1991 yang Belum Terulang Lagi

Bola.com mengajak pembaca buat bernostalgia mengenang kiprah Timnas Indonesia di pentas SEA Games. Kali ini soal kiprah Garuda di SEA Games 1991 yang jadi momen emas.

oleh Ario YosiaDiterbitkan 20 November 2019, 18:35 WIB
Kilas Balik Timnas Indonesia Juara Sea Games 1991 (Bola.com/Adreanus Titus)

Jakarta Timnas Indonesia mencatatkan sejarah penting pada SEA Games 1991. Tim besutan Anatoli Polosin itu berhasil menyumbangkan medali emas bagi Indonesia setelah menang dramatis melalui adu penalti 4-3 (0-0) atas Thailand di Stadion Rizal Memorial, Manila, Filipina.

Sukses Tim Garuda meraih medali emas kedua sepanjang sejarah juga terasa semakin spesial. Selain mengalahkan musuh bebuyutan Thailand, Timnas Indonesia “berpesta” di negeri orang. Pada SEA Games 1987, Timnas Indonesia meraih medali emas perdana saat berstatus sebagai tuan rumah.

Hanya, Ferril Raymond Hattu cs. membawa pulang medali emas ke Tanah Air melalui perjuangan yang berat.

Setelah mengalahkan Malaysia (2-0), Vietnam (1-0), Timnas Indonesia yang lebih banyak menurunkan pemain lapis kedua pada pertandingan ketiga justru tertinggal lebih dahulu 0-1 dari Filipina di babak pertama.

Suntikan semangat yang diberikan Polosin saat jeda babak pertama membuahkan hasil positif. Tendangan penalti, Raymond Hattu, dan striker muda Rocky Putiray, membalikkan keadaan menjadi 2-1 atas Filipina. Timnas Indonesia pun melenggang ke semifinal sebagai juara Grup B dengan mengoleksi poin sempurna dari tiga pertandingan.

Perjuangan para pengawa Tim Garuda mulai menemui jalan berliku pada babak semifinal. Tim yang diperkuat banyak pemain muda tersebut harus berjuang hingga babak adu penalti untuk lolos dari adangan Singapura yang diperkuat, Fandi Ahmad. Skor 0-0 bertahan selama 120 menit dan Timnas Indonesia akhirnya melaju ke final setelah menang adu penalti dengan skor 4-2.

Kendati lolos ke final, pesimisme publik mengenai peluang Timnas Indonesia mengulangi pencapaian di SEA Games 1987, tetap mengemuka. Keraguan itu mencuat seiring kiprah anak asuh Polosin yang lebih mengandalkan kekuatan fisik ketimbang permainan cantik.

Selain itu, Timnas Indonesia juga menghadapi Thailand yang mengincar gelar keempatnya di Rizal Memorial Stadium.

"Sejauh yang saya lihat di media-media waktu itu kami memang tidak diunggulkan. Hasil uji coba kami jelek, main bola saat itu juga tidak cantik, dan tidak punya pola permainan yang bagus. Kami hanya punya mental pemenang," ujar Sudirman.

Lanjut Baca:

Kematangan mental itu terbukti mampu memberikan perbedaan karena sebenarnya dalam drama adu penalti Timnas Indonesia nyaris menangis. Eksekutor pertama kedua tim, Raymond Hattu dan Attapon Busbakom menjalankan tugas dengan baik dan membuat skor menjadi 1-1. Thailand kemudian unggul 2-1 setelah tendangan Maman Suryaman mampu ditepis. Kedudukan berubah menjadi 3-2 untuk Thailand setelah eksekutor ketiga kedua tim sama-sama berhasil mengeksekusi penalti. Yusuf Ekodono lantas mengawali kebangkitan Tim Garuda setelah mengelabui kiper Thailand, Chaiyong. Eddy Harto kemudian menjadi penentu setelah menahan tembakan Suksok. Tekanan adu penalti semakin terasa setelah Widodo Cahyono Putro dan Ranachai Busbakom gagal membobol gawang lawan. Namun, Timnas Indonesia akhirnya membalikkan keadaan setelah sepakan Sudirman tak mampu dihalau kiper lawan. Setelah itu, Eddy Harto yang waktu itu berusia 29 tahun memastikan skor 4-3 usai memblok eksekusi Pairot. [Timnas Indonesia](4115041 "") menang dan berpesta setelah memastikan medali emas kedua sepanjang sejarah partisipasi di pesta olahraga se-Asia Tenggara itu. “Masih bisa saya rasakan bagaimana tegangnya kami waktu itu. Terpenting, Indonesia tak hanya bisa menang di Jakarta,” ujar Eddy Harto.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya