Ambisi Duo Milan dan Nilai Historis San Siro yang Terancam Luntur

San Siro bukan sekadar termpat bermain kesebelasan AC Milan dan Inter Milan. San Siro merupakan kepingan masa kecil yang indah bagi warga Milan seperti Emelio Cremonesi.

oleh Marco TampubolonDiterbitkan 18 November 2019, 19:30 WIB
Markas AC Milan dan Inter Milan, Stadion San Siro di Milan, Italia (Marco Tampubolon/Liputan6.com)

Liputan6.com, Milan - AC Milan dan Inter Milan berniat membangun stadion baru sebagai pengganti San Siro Stadium. Dua konsep telah ditawarkan oleh kontraktor ternama Papulous dan Manica-CMR.

Sama-sama megah. Manica hadir dengan konsep modern lengkap dengan berbagai fasilitas pendukung dan bisa digunakan untuk berbagai acara termasuk konser. Sementara Populous hadir dengan konsep The Cathedral yang terinspirasi dari bangunan bersejarah Duomo.

Selain untuk menambah kapasitas stadion, pembangunan stadion baru ini dianggap sebagai salah satu solusi untuk menambah pemasukan dua tim asal kota Milan itu. Pimpinan Rossoneri, Paolo Scaroni, bahkan optimistis mampu menyaingi klub-klub Eropa lainnya.

"Semua klub Eropa meraup pemasukan hingga 100 juta euro dari stadion. Sementara AC Milan dan Inter Milan hanya sekitar 34 juta euro," katanya beberapa waktu lalu.

Namun San Siro, bukan hanya 'milik' dua klub asal Milan, AC Milan dan Inter Milan saja. Stadion yang berdiri sejak 1926 itu punya nilai historis bagi warga di kota mode itu. Merubuhkan San Siro bakal mengapus sebagian kenangan masa kecil warga Milan.

Markas AC Milan dan Inter Milan, Stadion San Siro, Milan, Italia (Marco Tampubolon/Liputan6.com)

Setidaknya inilah yang dirasakan oleh Emelio Cremonesi, pemandu wisata yang menemani Liputan6.com saat berada di kota Milan bersama Astra Honda Motor (AHM) 5-6 November 2019. Cremonesi sudah berusia 55 tahun. Bagi generasinya, San Siro adalah kepingan masa lalu yang tidak akan tergantikan lewat kehadiran stadion baru yang supermegah sekalipun.

"Bagi saya, San Siro kenangan mana masa kecil saya," kata Cremonesi dalam perbincangan santai di Hotel NYX, Milan, Italia. "Saya sering ke sana saat masih kecil dulu," bebernya.

Lanjut Baca:

San Siro dibangun pada tahun 1925 dan baru beroperasi setahun kemudian. Sebelum dijual kepada pemerintah Milan, stadion ini awalnya adalah lokasi pacuan kuda milik Presiden [AC Milan](4097744 ""), Piero Pirelli. Dia lalu mengubah tempat itu menjadi stadion untuk skuat Rossonerri. Hingga saat ini, San Siro telah berulang kali mengalami renovasi untuk menambah daya tampung penonton. Saat ini, San Siro merupakan stadion terbesar di Italia dan Eropa. Stadion ini dirancang oleh dua atsitek andal, Alberto Cugini dan Ulisse Stacchini. Terinspirasi dari stadion di Inggris, bangunan ini menghabiskan dana 5 juta lire dan baru selesai selama 13 bulan. Awalnya, bangunan hanya mampu menampung 35 ribu penonton saja. Peresmian San Siro ditandai dengan derby AC Milan vs Inter Milan pada 19 September 1926. Pemerintah kota Milan kemudian membeli stadion ini dan merenovasinya pada tahun 1935. Sejak musim 1947/48, stadion ini resmi menjadi markas AC Milan dan Inter Milan. Dan pada tahun 1980, namanya diganti menjadi Giuseppe Meazza untuk menghormati pemain legendaris dari Milan yang pernah bermain untuk kedua klub, AC Milan dan Inter Milan. Renovasi besar-besaran kembali dilakukan jelang Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia. Saat ini, San Siro sudah termasuk stadion dengan kategori empat UEFA. "Saya ke sana saat Stadion San Siro masih dua ring, jadi sebelum direnovasi untuk Piala Dunia," kata Cremonesi mengenang perkenalannya dengan San Siro saat masih kecil dulu. Sejak kecil, Cremonesi merupakan pendukung Inter Milan mengikuti jejak ayahnya. Di Italia, pilihan seperti ini lazim di mana sang ayah mewariskan klub favoritnya kepada sang anak. Ikatan keluarga Cremonesi dengan Inter Milan semakin emosional berkat kehadiran Giacinto Facchetti. Sebab pemain legendaris Nerrazurri itu berasal dari desa tempat lahir Cremonesi. "Saya masih sempat menyaksikan pertandingan terakhir Facchetti di San Siro," katanya. San Siro seperti halaman belakang tempat bermain Cremonesi. Sebagai pemilik tiket semusim, hampir setiap pekan dia menyambangi San Siro untuk menyaksikan Inter Milan bertanding bersama ayahnya. "Saat ayah sudah tidak bisa lagi ke stadion, saya pergi bersama teman-teman yang berusia lebih tua karena saat itu saya baru 13 tahun," katanya. Inter Milan vs Palermo menjadi laga terakhir yang disaksikan Cremonesi sekitar 20 tahun lalu. Sejak saat itu, dia sudah jarang ke San Siro untuk menyaksikan sepak bola. Terakhir kali dia menyambangi stadion legendaris itu untuk menghadiri acara keagamaan saja.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya