FOTO: [CERITA] Senjakala Riwayat Metromini

Saat ini sopir Metromini semakin tercekik mencari nafkah di Ibu Kota Jakarta akibat ekspansi Transjakarta, ojek online, dan ketatnya regulasi Dinas Perhubungan DKI.

oleh Arnaz Sofian diperbarui 17 Nov 2019, 17:00 WIB
[CERITA] Senjakala Riwayat Metromini
Saat ini sopir Metromini semakin tercekik mencari nafkah di Ibu Kota Jakarta akibat ekspansi Transjakarta, ojek online, dan ketatnya regulasi Dinas Perhubungan DKI.
Hendri (45) sopir pengganti pada Metromini T-53 jurusan Kampung Melayu-Kampung Rambutan saat mencari penumpang di kawasan Otista, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Hari menjelang sore, waktu menunjukkan hampir pukul 16.00 WIB, namun kursi-kursi belum juga terisi penumpang. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Sejumlah penumpang menyaksikan pengamen di dalam Metromini T-53, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Saat ini, eksistensi moda transportasi yang pernah menjadi andalan warga Jakarta sejak era 1970 an terus terlindas roda persaingan angkutan dan kemajuan zaman. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Warga menaiki Metromini P-07 jurusan Pasar Senen-Semper di kawasan Cempaka Mas, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Beberapa faktor menjadi alasan warga untuk beralih menggunakan moda transportasi lain dan mulai meninggalkan Metromini yang awalnya dikenal dengan sebutan bus Merah ini. (merdeka.com/Iqbal Nug
Bus Transjakarta melintasi armada Metromini S-69 yang menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Kenyamanan dan ketepatan waktu keberangkatan menuju tujuan menjadi salah satu faktor beralihnya warga menggunakan moda transportasi selain Metromini. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Refleksi pengemudi Metromini T-53, Joni (43) di Terminal Kampung Melayu, Jakarta, Selasa (12/11/2019). Ekspansi bus Transjakarta, merebaknya moda trasportasi daring, ketatnya regulasi yang dikeluarkan Dishub DKI Jakarta semakin menggerus pendapatan para sopir Metromini. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Penumpang duduk di Metromini S-69, Terminal Blok M, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Pada masa jayanya, penghasilan pengemudi Metromini cukup menggiurkan, Rp500.000,- per hari bisa mereka kantongi, kini bersama meredup moda transportasi ini penghasilan mereka pun ikut turun. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Metromini P-07 jurusan Pasar Senen-Semper melintas di kawasan Cempaka Mas, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Uang setoran Rp250.000,- yang wajib mereka berikan kepada pemilik, ditambah kebutuhan solar Rp200.000,- per harinya membuat pengemudi Metromini harus memutar otak. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Sianipar (62) tertidur di bangku kemudi saat beristirahat sambil menunggu penumpang di Terminal Blok M, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Kakek dua cucu ini mengaku pernah hanya mengantongi uang Rp20.000 dari seharian mengemudikan Metromini S-69 jurusan Ciledug-Blok M. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Ojek daring melintas beriringan dengan Metromini P-07 di kawasan Cempaka Mas, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Pengemudi Metromini S-69, Sianipar (62) mengatakan saat ini dirinya maksimal mampu mengumpulkan Rp100.000,- per hari hasil membawa penumpang dengan Metromini S-69. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Kondisi Metromini B-80, Jakarta, Kamis (14/11/2019). Sianipar (62) pun menjelaskan kalau dirinya harus bertahan hingga pukul 22.00 WIB ke atas untuk mencari sisa penumpang bus Transjakarta, khususnya MetroTrans yang pada jam-jam tersebut sudah tidak beroperasi. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Dedi (39), pengemudi Metromini T-506 menghitung pendapatannya di Pondok Kopi, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Pria yang sudah menggeluti profesi pengemudi Metromini sejak 1994 mengalami nasib yang tak kalah pilu, ia mengaku hanya mampu mendapat paling tinggi Rp100.000,-. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Petugas Dishub DKI menghentikan laju Metromini S-69 di kawasan Blok M, Jakarta, Rabu (13/11/2019). Awal 2016 atau pada era kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menjadi fase kelam Metromini, ratusan armada mulai dikandangkan karena terganjal izin operasi. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Kondisi Metromini T-17 yang dipenuhi tumbuhan liar di Pool Rawa Buaya, Kamis (14/11/2019). Sejak 2016, ratusan bangkai Metromini dijual ke pengusaha pemotongan besi dengan harga paling tinggi Rp 12 juta per unit. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)
Pekerja memotong salah satu bagian Metromini, Jakarta, Kamis (14/11/2019). Kini pemilik dan pengemudi Metromini hanya pasrah dengan kenyataan pahit yang makin mengimpit, terlebih muncul wacana Dishub DKI Jakarta akan menghentikan operasi moda transportasi ini pada 2020. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya