Helikopter Bom Air Berhasil Padamkan 7 Titik Kebakaran di Pegunungan Ijen Banyuwangi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan satu helikopter pemadam. Pemadaman lewat udara menjadi satu-satunya cara efektif untuk memadamkan api karena sulitnya medan.

oleh Gilar Ramdhani pada 28 Okt 2019, 12:05 WIB
Helikopter dari BNPB itu melakukan water bombing alias pengeboman air di kawasan yang masih terbakar.

Liputan6.com, Jakarta Helikopter pemadam mulai beroperasi di kawasan Pegunungan Ijen, Banyuwangi, Minggu (27/10/2019). Helikopter dari BNPB itu melakukan water bombing alias pengeboman air di kawasan yang masih terbakar.

Menyusul dikirimkannya surat permohonan bantuan armada udara yang dilayangkan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, terkait pemadaman kebakaran hutan lewat pengeboman air, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengirimkan satu helikopter pemadam. Pemadaman lewat udara menjadi satu-satunya cara efektif untuk memadamkan api karena sulitnya medan.

"Kemarin sore helinya sudah datang ya (Sabtu 26 Oktober). Minggu pagi tadi telah beroperasi melakukan pemadaman. Terima kasih atas respons dari BNPB serta Pemprov Jatim, Gubernur Ibu Khofifah, yang turut membantu pengiriman armada udara untuk menagatasi kebakaran pegunungan Ijen," kata Anas.

Bupati Anas sendiri telah menetapkan Status Tanggap Darurat penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan untuk kawasan Pegunungan Ijen, mulai 22 - 28 Oktober 2019. Seiring dengan penerbitan status tersebut, Pemprov Jatim juga melakukan penetapan Status Tanggap Darurat untuk kawasan tersebut pula per tanggal yang sama. 

"Operasi ini kan mengacu pada status dan masa tanggap darurat dari Pemprov Jatim karena yang mengendalikan pihak Pemprov Jatim. Masa tanggap darurat yang ditetapkan provinsi sendiri mengacu pada penetapan kabupaten," jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Fajar Suasana.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Eka Muharram menjelaskan bahwa pada hari pertama ini, Minggu (27/10/2019), helikopter melakukan dua kali operasi. Operasi etape pertama dimulai sekitar pukul 07.30 hingga pukul 10.20.

 

Helikopter dari BNPB itu melakukan water bombing alias pengeboman air di kawasan yang masih terbakar.

"Pada etape pertama tadi berhasil melakukan pengeboman di tujuh spot api di kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup. Titik api yang terlihat sudah dibom air oleh petugas," kata Eka.

Pada etape dua yang dimulai pukul 12.00, lanjut Eka, helikopter akan mengarah ke Gunung Ranti.

"Etape dua rencananya fokus ke Gunung Ranti. Tadi ada pegawai Parhutani yang diajak ikut terbang. Gunung Ranti berada di bawah otoritas Perhutani," jelas Eka.

Suplai air diambil dari Selat Bali di sekitar Pantai Watudodol. Helikopter water bombing ini sekali terbang membawa air 4.000 liter air. Helikopter akan menembakkan air beberapa kali selama kurang lebih 3-4 jam.

"Airnya kami ambilkan di Pantai Watudodol karena sejumlah faktor. Selain jaraknya paling dekat, di sana juga gelombangnya tidak terlalu tinggi. Kalau Pantai Boom masih tergolong tinggi ombaknya," jelasnya.

Ditambahkan Eka, operasi ini akan terus dilakukan hingga dirasa kebakaran hutan bisa dikendalikan dengan baik. Besok, kata dia, direncanakan operasi pemadam kebakaran akan diteruskan.

"Mengingat hari ini kondisi cuaca yang berawan dan berkabut. Rencananya besok kami akan lakukan lebih pagi lagi, untuk menghindari awan dan kabut," kata Eka.

 

Pada etape pertama, Helikopter dari BNPBberhasil melakukan pengeboman di tujuh spot api di kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup.

"Selain itu, bila operasi pemadaman dirasa masih diperlukan hingga beberapa hari ke depan, maka pemkab siap memperpanjang masa tanggap darurat. Kami siapkan suratnya," pungkas Eka.

Untuk diketahui, Gunung Ranti yang lokasinya bersebelahan dengan Gunung Ijen di wilayah Banyuwangi terbakar. Kawasan Gunung Merapi Ungup-ungup di kawasan Ijen juga kemudian ikut terbakar.

Akibat kebakaran tersebut, Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ijen dinyatakan tertutup untuk kunjungan wisatawan sejak Minggu (20/10/2019).

 

(*)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya