Ku Tak Percaya Kamu Mati: Catatan Kritis Untuk Nalar Cerita dan Desain Poster Film

Film Ku Tak Percaya Kamu Mati salah satu mencoba mengusung kedekatan khalayak terhadap alam lain.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 10 Oktober 2019, 11:00 WIB
Film Ku Tak Percaya Kamu Mati salah satu mencoba mengusung kedekatan khalayak terhadap alam lain.

 

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan masyarakat Indonesia dengan kelenik atau unsur mistis relatif dekat. Ini dijadikan peluang bagi sejumlah sineas mendatangkan penonton layar lebar. Film Ku Tak Percaya Kamu Mati salah satu mencoba mengusung kedekatan khalayak terhadap alam lain.

Berbekal keyakinan bahwa selama 40 hari setelah kematian, arwah masih berada di sekitar rumah, film Ku Tak Percaya Kamu Mati mulai bercerita. Yang menarik, film Ku Tak Percaya Kamu Mati menempatkan dua bocah sebagai penggerak cerita. Apakah hasil akhirnya sebagus yang diharapkan? 

Film Ku Tak Percaya Kamu Mati sebenarnya cerita persahabatan yang manis. Dua anak SD, Bagong Pamungkas (Raditya) dan Fantar (Agantaran) duduk bersebelahan di kelas. Suatu siang, Bagong jadi korban tabrak lari. Ia tewas.

 

Pelaku yang mengendarai sepeda motor ogah bertanggung jawab. Ditinggal mati anak kesayangan, Riskan (Farah) syok berat. Hidupnya terbelenggu kursi roda. Riskan hidup bersama kakaknya, Asih (Kinaryosih) yang bekerja jadi penjahit. Selain Riskan, Fantar juga terpukul atas kematian Bagong. 

Di kelas, Fantar menolak siswa lain yang hendak duduk di kursi Bagong. Setelah dimakamkan, Fantar masih bisa melihat Bagong. Riskan juga beberapa kali melihatnya di kamar bahkan, salat bersama Asih. Pasangan suami istri Hartok (Daniel) dan Tinuk (Renie) sering mendengar Bagong bersenandung. Demi melapangkan jalan Bagong ke alam baka, Asih mengundang Kyai (Deddy), Cahya (Niniek), dan tetangga untuk doa bersama. Namun frekuensi pemunculan Bagong masih sering karena ada urusan yang belum selesai. 

 


Penceritaan Kurang Rapi

Menuju hari ke-40 setelah mangkat, konon arwah orang meninggal masih berada di sekitar rumah. Katanya, ia ingin menyelesaikan apa yang belum tuntas di dunia. Kisah ini pernah diangkat dalam horor mencekam karya Rudi Sowdjarwo, 40 Hari Bangkitnya Pocong tahun 2008. Dibintangi Sabhai Morscheck dan Raffi Ahmad, film ini memuat sejumlah momen menegangkan yang membekas di benak penonton hingga kini. Ku Tak Percaya Kamu Mati mestinya mampu melakukan hal serupa. Hanya, film ini terkendala sejumlah faktor.

Pertama, pembabakan yang terlalu tegas di mana paruh pertama nyaris tanpa penampakan. Paruh kedua, barulah adegan jump-scare menghantui penonton. Bagi yang tak sabar, tentu paruh pertama terasa (agak) melelahkan. Kedua, penceritaan yang kurang rapi khususnya di paruh kedua. Misalnya, anak kecil datang ke rumah tetangga yang tak begitu dikenal dekat untuk membeli sepeda motor. Anak SD, lo. Agak ganjil kami rasakan. Ketiga, adegan yang kurang runut. Misalnya, saat Asih salat lalu keran air terbuka lagi.

Lanjut Baca:

Koreksi kalau kami salah. Asih yang semula hendak salat di ruang X, keluar mematikan keran lalu masuk lagi di ruang yang berbeda. Entah ini masalah atau bukan, koherensi adegan mestinya lebih diperhatikan. Horor ala Ku Tak Percaya Kamu Mati masih menyisakan sejumlah adegan ngeri khususnya penampakan di pos ronda. Rumah pasangan Hartok-Tinuk sendiri sebenarnya sudah terasa wingit. Ada beberapa sudut yang bisa dijadikan titik mematikan tapi tak terjamah oleh kreator film. Di samping lemari, lorong penghubung kamar, dan sudut dapur yang luas misalnya, bisa dijadikan arena “bermain” dengan para penonton. Sayangnya, itu tak terjadi. Lokasi syuting Ku Tak Percaya Kamu Mati di Yogyakarta. Perkampungan tempat Asih dan pasangan Hartok-Tinuk tinggal juga arena yang asyik untuk dieksplorasi. Apalagi jika mau memanfaatkan permakaman kampung, Ku Tak Percaya Kamu Mati bisa jadi horor yang mencekam lantaran dekat dengan audiens.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya