Christine Hakim: &quotFilm Adalah Bangku Universitas Saya"

Banyaknya penghargaan film dari luar maupun dalam negeri tak membuat Christine Hakim terbuai. Buat dia, semua itu adalah besutan untuk lebih lagi memajukan sinema bangsa sendiri.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 September 2002, 14:22 WIB
Liputan6.com, Jakarta: "Film adalah bangku universitas bagi saya". Demikian yang dilontarkan dari mulut Christine Hakim saat menerima penghargaan Lifetime Achievement dari SCTV Jumat malam pekan ini. Yah, perempuan yang kerap mendapat berbagai penghargaan film baik dari dalam maupun luar negeri itu memang layak diganjar Piala Lifetime Achievement. Sebab, hampir separuh hidupnya dihabiskan buat memajukan sinema. "Saya main film sejak umur enam tahun," kata Christine saat berbincang-bincang dengan reporter Indiarto Priadi di Studio SCTV Jakarta, Ahad (1/9) siang.

Mengawali karirnya dalam film "Cinta Pertama" (1973), perempuan kelahiran Jambi, 25 Desember 1956, itu mengaku awalnya cuma kesasar di dunia film. Namun, berkat wejangan dari sineas senior almarhum Teguh Karya, dia menjadi yakin bahwa film adalah jalan hidupnya. "Saya tak kecewa kecemplung di dunia ini. Saya merasa sangat beruntung," kenang istri Jeroen Lezer itu.

Nama besar Christine memang sempat hilang saat perfilman Tanah Air "mati suri". Namun, dia tetap tak mau kehilangan komunikasi dengan masyarakat Indonesia. Karena itulah, dia sempat membelot ke dunia televisi lewat sinetron "Bukan Perempuan Biasa" yang disutradarai Jajang C. Noer. Kembalinya si pelanggan Piala Citra itu banyak dipuji kritikus film. Tapi, Christine tak berpuas diri. Baginya, hatinya masih nelangsa jika perfilman Indonesia belum bangkit. Maka, bergurulah dia ke Negeri Jepang dan Belanda untuk mengasah kemampuan aktingnya. Kemudian, ilmu itu diterapkannya kembali dalam berbagai film di Tanah Air. Sampai lahirlah di antaranya "Pasir Berbisik" yang seakan menjadi geliat kecil kebangunan sinema Indonesia.

Prestasi lain yang pernah diterima Christine di luar negeri antara lain, dari Yayasan Yamamoto Yosuei no Kai Jepang (Februari 1997) dan Japan Foundation ASEAN Cultural Center. Dia juga pernah diganjar penghargaan "Chevalier Des Arts Et Des Lettres", penghargaan seni dari pemerintah Prancis (11 Januari 1991) dan Special Award dan Best Award sebagai pemain dan produser film Daun di Atas Bantal di Cinemanila International Film Festival di Manila, Filipina (Juli 1999). Selain itu, "Penghargaan Asia" untuk bidang kebudayaan dari Surat Kabar ekonomi Jepang, Nikkei (9 Mei 2002) juga pernah dihadiahi padanya. Dan, tak kalah membanggakan, Christine juga sempat bersanding dengan Sharon Stone, David Lynch serta Michelle Yeoh sebagai Juri Festifal Film Internasional ke-55 Cannes (16-23 Mei 2002).

Banyaknya penghargaan tak membuat wanita yang pelit membeberkan kehidupan pribadinya itu tinggi hati. Buat dia, tepuk tangan dan penghargaan bukan buaian yang mampu menenggelamkannya dalam keglamoran dunia selebriti. "Ini becutan untuk lebih berkarya," katanya, bijaksana. Bahkan, bagi Christine, Piala Lifetime Achievement dari SCTV yang diterimanya di Jakarta Convention Center lusa kemarin, bukan cuma sekadar tanda penghormatan. "Ini pekerjaan rumah baru untuk saya," teriak dia, lantang. Begitulah, "Si Cut Nyak Dien" itu seakan tak mau berhenti belajar demi kontribusi perfilman Indonesia di masa datang. Mungkin, gelar sarjana film semacam Doktor Honoris Causa layak pula ditempelkan di samping namanya.(MTA)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya