Liputan6.com, Jakarta Manajer Bologna, Sinisa Mihajlovic, divonis mengidap kanker darah atau leukemua. Beragam label mengerikan melekat pada penyakit ini, tapi pria Kroasia itu memilih untuk melawan.
Menangis. Inilah reaksi pertama Mihajlovic saat divonis mengidap penyakit ini. Bayangan kematian yang segera menjemput dan perpisahan dengan orang-orang terkasih membuat pria berusia 50 tahun tersebut tidak kuasa untuk menahan air matanya.
Advertisement
"Itu merupakan pukulan telak saat menerima berita itu. Berhari-hari saya hanya bisa duduk dan menangis, hidup Anda berlalu di depan mata," kata Mihaljovic seperti dilansir The42.ie.
Leukemia merupakan salah satu penyakit yang paling mematikan di muka bumi ini. Berawal dari tulang belakang dan menyebabkan pertumbuhan sel-sel darah yang tidak normal.
Belum diketahui penyebab pasti munculnya penyakit ini. Siapapun bisa terserang. Tua-muda, bahkan anak-anak tidak mustahil mengalaminya. Pola hidup juga bukan satu-satunya pemicu leukemia. Kombinasi genetik dan faktor lingkungan bisa memicu penyakit ini.
Namun semua ini tidak lagi penting bagi Mihajlovic. Mantan pelatih AC Milan itu memilih fokus pada satu hal, yakni melawan untuk sembuh. Dalam jumpa pers yang digelar belum lama ini, Mihajlovic bertekad untuk menjalani seluruh pengobatan yang dibutuhkan.
"Saya ingin menghadapinya dengan dada membusung, menatap matanya seperti yang selalu kulakukan. Saya tidak sabar ingin ke rumah sakit dan mulai bertarung. Itu agresif, tapi bisa dikalahkan," kata Mihajlovic yang baru setengah musim menangani Bologna.
"Sayangnya, tidak ada yang diberikan kepada saya selama hidup ini. Saya harus berjuang untuk segalanya, dan saya juga akan berjuang untuk ini," ujar Mihajlovic.
Bukan Mustahil Sembuh
Dokter klub, Gianni Nanni, juga membenarkan penyakit yang diidap Mihajlovic. Bahkan tingkatanyanya sudah masuk kategoti akut. Namun Nanni yakin Mihajlovic bisa pulih.
Kemajuan teknologi menurut Nanni sudah bisa diandalkan untuk melawan penyakit ini.
"Duapuluh tahun lalu, kita bahkan tidak membicarakan tentang cara melawan penyakit ini, tapi hari ini dengan berbagai pengetahuan yang kita punya kita bisa bicara tentang masa depan cerah bagi seorang pelatih untuk tetap melanjutkan karirnya," kata Nanni.