Top 3: Ramalan Morgan Stanley Soal Jokowi

Berikut ini 3 artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Jumat 19 April 2019.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 19 April 2019, 07:30 WIB
Capres dan Cawapres 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin memberi keterangan di Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (18/4). Dalam keterangannya Jokowi memaparkan hasil quick count 12 lembaga survei yang 100% sudah selesai, Jokowi-Amin memperoleh 54,55 % suara dan Prabowo-Sandi 45,5%. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) diproyeksikan menjuarai pilpres 2019. Pihak asing pun mulai meramalkan apa yang akan Jokowi lakukan di periode kedua. Salah satunya adalah naiknya ekonomi.

Morgan Stanley yakin pertumbuhan ekonomi akan naik sedikit menjadi 5,3 persen. Ini berbeda dari ekonomi global yang cenderung melemah berdasarkan proyeksi IMF.

Artikel mengenai prediksi lembaga keuangan asing Morgan Stanley mengenai hal-hal yang akan dilakukan oleh Jokowi ke depan menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. selain itu masih ada beberapa artikel lain yang layak untuk disimak.

Lengkapnya, berikut ini 3 artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Jumat 19 April 2019:

1. Ramalan Morgan Stanley Jika Jokowi Menang 2 Periode

 

Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi memberi paparannya dalam debat kedua Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2). Debat dipimpin oleh Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Presiden Joko Widodo diproyeksikan menjuarai pilpres 2019. Pihak asing pun mulai meramalkan apa yang akan Jokowi lakukan di periode kedua. Salah satunya adalah naiknya ekonomi.

Morgan Stanley pun melihat hasil pemilu menghilangkan ketidakpastian soal berlanjutnya kebijakan. Pasalnya, Jokowi dipandang akan terus berpegang pada kebijakannya di periode pertama.

"Pada periode pertama Jokowi, progres dibuat di sejumlah area, yakni pengembangan infrastruktur, reformasi fiskal, peningkatan dalam kemudahan berbisnis, dan langkah sosial untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan," tulis Morgan Stanley.

2. Jack Ma Ingin Pegawai Kerja 12 Jam per Hari, Kenapa?

Jack Ma dalam pertemuan tahunan World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss (18/1/2017) (AP)

Miliarder sekaligus pendiri Alibaba, Jack Ma baru-baru ini menggemparkan dunia. Kali ini, ia datang dengan peraturan jam kerja bagi pegawainya yang begitu kontroversi.

Dilansir dari laman Forbes, Jack Ma ingin menerapkan 72 jam seminggu atau 12 jam kerja per hari kepada karyawannya. Jam kerja barunya ini dinamai dengan "9-9-6" ini berarti masuk dari jam 9 pagi dan pulang hingga jam 9 malam, dalam 6 hari seminggu.

Jack Ma mengatakan, seharusnya para karyawannya ini bersyukur karena mendapatkan kesempatan bekerja dan belajar yang cukup banyak. Ia pun menambahkan banyak perusahaan dan orang-orang yang tidak memiliki kesempatan untuk bekerja 996 ini

 

3. Saham Saratoga Milik Sandiaga Uno Tumbang Usai Pilpres 2019

Pengunjung tengah melintasi layar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (13/2). Pembukaan perdagangan bursa hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,57% atau 30,45 poin ke level 5.402,44. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) merosot sepanjang sesi pertama perdagangan saham Kamis (18/4/2019). Tekanan terhadap saham SRTG ini terjadi usai pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) 2019.

Berdasarkan data RTI, saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk dibuka turun 10 poin ke posisi Rp 3.830 per saham dari penutupan perdagangan Selasa di posisi Rp 3.840 per saham.

Pada sesi pertama, saham SRTG tergelincir 3,91 persen ke posisi Rp 3.690 per saham. Saham SRTG sempat berada di level tertinggi Rp 3.840 dan terendah Rp 3.400 per saham.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya