Liputan6.com, Jakarta - Manajer legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson melontarkan frase ini usai kemenangan dramatis pada final Liga Champions, musim panas 1999. Menyaksikan anak asuhnya mencetak dua gol pada injury time untuk mengalahkan Bayern Munchen, dia berkata "Football, bloody hell!".
Istilah ini kembali terucap hampir 20 tahun berselang. Ketika semua memprediksi satu hal, sepak bola membalikkan semuanya menyusul kemenangan Manchester United atas Paris Saint-Germain (PSG) 3-1 di Parc des Princes, Rabu (6/3/2019) atau Kamis dini hari WIB.
Advertisement
Hasil 3-1 membawa pasukan Ole Gunnar Solskjaer, salah satu pencetak gol MU di Camp Nou dua dekade silam, ke putaran berikutnya. Mereka unggul agregat gol tandang 3-3 setelah tumbang 0-2 di kandang sendiri, tiga pekan lalu.
Peristiwa ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Tercatat sudah 106 kali tim gagal membalikkan kedudukan karena tumbang 0-2 di kandang pada laga pertama dalam kompetisi Eropa, 34 di antaranya pada panggung Liga Champions.
Capaian The Red Devils makin luar biasa karena tampil dalam keadaan pincang. Mereka kehilangan 10 pemain akibat berbagai alasan pada laga ini, tiga di antaranya merupakan gelandang pilihan utama.
Nyatanya, dalam kondisi itu, Manchester United sukses melewati semua rintangan. Mereka mencapainya mengandalkan bangku cadangan dengan total nomor punggung 240.
Sebanyak lima di antara pelapis tersebut adalah remaja, tiga di antaranya berkesempatan unjuk gigi. Trio tersebut adalah Diogo Dalot, Tahith Chong, dan Mason Greenwood.
Karakter Rashford
Di Parc des Princes, Manchester United memang tampil bertahan demi mengantisipasi kecepatan Kylian Mbappe dan possession football arahan Marco Verratti. Namun, mereka sukses menjaga nyawa berkat dua gol Romelu Lukaku memanfaatkan kesalahan Thilo Kehler dan Gianluigi Buffon.
Baru pada lima menit terakhir The Red Devils melepas rem dan mencari satu gol yang dibutuhkan untuk mencapai perempat final. Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil berkat bantuan video assistant referee.
Wasit Damir Skomina menganggap Presnel Kimpembe sengaja memblok tendangan Dalot menggunakan tangan di area terlarang. Banyak yang mengganggap keputusan ini kontroversial karena Kimpembe membalikkan badan.