Liputan6.com, Sumedang: Polisi antiteror menggiring empat terduga teroris ke dalam mobil Barakuda di Markas Brigade Mobil (Brimob) Sumedang, Jawa Barat, baru-baru ini. Menurut polisi, keempat orang itu diduga bagian jaringan teroris Kamaluddin di Bima, Nusa Tenggara Barat.
Keempat orang berinisial AM, UP, NN, dan EJ itu ditangkap di Purwakarta, Cikampek dan Jatiluhur, Jawa Barat. Masih ada tiga orang lagi anggota teroris jaringan Kamaluddin yang berada di Bandung, Jabar [baca: Empat Tersangka Teroris Dibawa ke Sumedang].
Menurut polisi, mereka ditengarai mengikuti pelatihan di Jalin Jantho, Aceh Besar. Serta, berperan memasok senjata yang nantinya akan digunakan dalam aksi teror. Mereka juga diduga terlibat dalam perampokan bank di Medan, Sumatra Utara.
Di Cibuning, Purwakarta, Jawa Barat, rumah salah satu terduga teroris berinisial AM tampak sepi. Istri AM menghindar saat dimintai konfirmasi mengenai penangkapan suaminya. Menurut mantan ketua rukun warga setempat, AM yang tinggal di Cibening sejak tiga tahun lalu, tidak pernah pulang ke rumahnya. Terutama setelah dipecat dari pekerjaannya di salah satu pabrik.
AM ditangkap Detasemen Khusus88 Antiteror pada Selasa (17/4) silam pukul 05.00 WIB. Adapun penangkapan empat terduga teroris di Jawa Barat, berawal dari penangkapan Kamaluddin di Bima, NTB. Sementara, Yuni Ardhie yang membuka tempat praktik dokter gigi di Jalan Datu Dibanta, Bima, mempekerjakan Kamaluddin sebagai pencatat pendaftaran pasien.
Selain menangkap Kamaluddin, Densus 88 juga menangkap Yuni Ardhie dengan tuduhan menyembunyikan seorang teroris. Menurut istri Yuni Ardhie, Dwi Endah Susilaningsih, ia dan suaminya tidak tahu orang yang bekerja di rumah mereka bernama Kamaluddin. Pasalnya, saat berkenalan, Kamaluddin mengaku bernama Ridho yang datang dari Jakarta dan datang untuk mengobati gigi. Ia sekaligus mengaku sedang mencari pekerjaan.
Hingga kini Dwi Endah belum tahu keberadaan sang suami Yuni Ardhie. Bahkan, surat penangkapan pun belum ia terima. Untuk menghidupi keluarga setelah suaminya ditangkap, Dwi Endah akan kembali membuka praktik dokter gigi. Apalagi, ia juga seorang dokter gigi.(ANS)
Keempat orang berinisial AM, UP, NN, dan EJ itu ditangkap di Purwakarta, Cikampek dan Jatiluhur, Jawa Barat. Masih ada tiga orang lagi anggota teroris jaringan Kamaluddin yang berada di Bandung, Jabar [baca: Empat Tersangka Teroris Dibawa ke Sumedang].
Menurut polisi, mereka ditengarai mengikuti pelatihan di Jalin Jantho, Aceh Besar. Serta, berperan memasok senjata yang nantinya akan digunakan dalam aksi teror. Mereka juga diduga terlibat dalam perampokan bank di Medan, Sumatra Utara.
Di Cibuning, Purwakarta, Jawa Barat, rumah salah satu terduga teroris berinisial AM tampak sepi. Istri AM menghindar saat dimintai konfirmasi mengenai penangkapan suaminya. Menurut mantan ketua rukun warga setempat, AM yang tinggal di Cibening sejak tiga tahun lalu, tidak pernah pulang ke rumahnya. Terutama setelah dipecat dari pekerjaannya di salah satu pabrik.
AM ditangkap Detasemen Khusus88 Antiteror pada Selasa (17/4) silam pukul 05.00 WIB. Adapun penangkapan empat terduga teroris di Jawa Barat, berawal dari penangkapan Kamaluddin di Bima, NTB. Sementara, Yuni Ardhie yang membuka tempat praktik dokter gigi di Jalan Datu Dibanta, Bima, mempekerjakan Kamaluddin sebagai pencatat pendaftaran pasien.
Selain menangkap Kamaluddin, Densus 88 juga menangkap Yuni Ardhie dengan tuduhan menyembunyikan seorang teroris. Menurut istri Yuni Ardhie, Dwi Endah Susilaningsih, ia dan suaminya tidak tahu orang yang bekerja di rumah mereka bernama Kamaluddin. Pasalnya, saat berkenalan, Kamaluddin mengaku bernama Ridho yang datang dari Jakarta dan datang untuk mengobati gigi. Ia sekaligus mengaku sedang mencari pekerjaan.
Hingga kini Dwi Endah belum tahu keberadaan sang suami Yuni Ardhie. Bahkan, surat penangkapan pun belum ia terima. Untuk menghidupi keluarga setelah suaminya ditangkap, Dwi Endah akan kembali membuka praktik dokter gigi. Apalagi, ia juga seorang dokter gigi.(ANS)