Abon Lele Potensial Cegah Tubuh Kerdil di Kalangan Anak-anak

Mahasiswa program kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Jember (Unej) menawarkan abon lele sebagai upaya untuk mencegah anak-anak berusia di bawah lima tahun mengalami kekerdilan

oleh Liputan6.com diperbarui 10 Sep 2018, 18:00 WIB
Seorang warga Kabupaten Cirebon, Jabar, mengolah ikan lele menjadi abon. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

 

Liputan6.com, Jakarta Mahasiswa program kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Jember (Unej) menawarkan abon lele sebagai upaya untuk mencegah anak-anak berusia di bawah lima tahun mengalami kekerdilan karena tingginya angka kasus stunting di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

"Saat melakukan observasi awal, kami menemukan 20 balita yang teridentifikasi penderita kekerdilan di Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, namun sayangnya angka pasti balita kekerdilan belum kami dapatkan karena Puskesmas setempat juga tidak memiliki data," kata salah seorang mahasiswa KKN Unej, Aulifia Nurul, di Jember, Minggu.

Menurutnya, mahasiswa KKN tematik stunting dan sanitasi mulai melakukan pemetaan masalah dengan melakukan wawancara, dan pengamatan wilayah, sehingga ditemukan fakta bahwa sebenarnya masyarakat Desa Glagahwero umumnya memiliki tingkat ekonomi memadai.

"Namun hanya saja mereka kurang informasi terkait makanan bergizi, khususnya Makanan Pendamping (MP) ASI apa yang bisa disajikan kepada balitanya agar tidak mengalami kekerdilan," kata mahasiswi keperawatan Unej itu.

Ia mengatakan beberapa warga di Desa Glagahwero memiliki usaha kolam lele, termasuk kepala desanya dan mahasiswa KKN berusaha memanfaatkan potensi desa yang ada, sehingga tercetus ide untuk memanfaatkan ikan lele yang kaya protein sebagai sumber makanan bergizi bagi balita karena mudah didapatkan di desa setempat.

"Kami menjadikan lele sebagai MP-ASI bukan tanpa alasan karena daging lele yang lebih lembut dibandingkan ikan lainnya lebih memudahkan bagi balita untuk mencernanya," tuturnya.

Selain itu, lanjut dia, kandungan protein yang tinggi dan harga ikan lele cukup terjangkau, namun untuk membuatnya sebagai abon dibutuhkan keterampilan tersendiri, agar hasilnya enak dan mirip abon pada umumnya.

"Kami sudah memberikan pemahaman dan dorongan kepada ibu-ibu warga Desa Glagahwero agar berani mengambil peluang pembuatan abon lele. Tujuannya, balita mendapat asupan gizi yang baik, sekaligus menambah penghasilan keluarga," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unej, Hermanto Rohman mengatakan masih tingginya angka balita penderita kekerdilan di Jember menjadi perhatian Unej.

"Salah satu kontribusi yang dilakukan oleh Kampus Tegalboto Unej adalah dengan menerjunkan mahasiswanya dalam program KKN tematik stunting dan sanitasi sebanyak 280 mahasiswa yang tersebar di 28 desa di Kabupaten Jember, Bondowoso, dan Probolinggo," katanya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jember menyebutkan sekitar 30 persen dari total sebanyak 180.000 balita di Kabupaten Jember mengalami kekerdilan selama beberapa tahun terakhir dan tersebar hampir merata di 31 kecamatan di wilayah setempat. (Antara/Zumrotun Solichah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya