Periset Indonesia di Jerman Teliti Manfaat Tinja

Muda, kreatif dan inovatif, mahasiswa Universitas Bonn, Jerman, Fadli Mustamin, bersama timnya menggali potensi dari tinja. Apa saja potensinya?

Oleh DW.com diperbarui 16 Jul 2018, 09:00 WIB
Minuman bir hasil daur ulang urine di Grent University, Belgia. (Sumber Con-science)

Liputan6.com, Jakarta Muda, kreatif, dan inovatif, mahasiswa Universitas Bonn, Jerman, Fadli Mustamin, bersama timnya menggali potensi dari hal yang selama ini dihindari manusia, yakni tinja. Apa saja potensinya?

Buang hajat jadi bagian dari ritual biologis manusia sehari-hari. Meski bau dan kotor, tahukah Anda kotoran buangan manusia ini bisa bermanfaat bagi alam? Sebuah penelitian di Jerman, yang salah satunya beranggotakan seorang periset asal Indonesia, mencari manfaat dari kotoran manusia.

Dari tinja, katakanlah satu kota berpenduduk 1 juta orang dapat dihasilkan: 1.200 ton Nitrogen, 170 ton Fosfor, 330 ton Potassium per tahun. Di Universitas Bochum di Jerman, manfaat tinja manusia ini diteliti dan dibuat menjadi pupuk organik untuk sektor pertanian.

Fadli Mustamin bersama para rekannya yang tergabung dalam tim peneliti kerja sama universitas Bochum dan Universitas Bonn, International Water Management Institute di Srilanka, meneliti manfaat gabungan lumpur tinja dan sampah organik untuk pupuk organik. Proyek ini didanai oleh Kementerian untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, BMZ.

Metode yang paling umum dan terjangkau adalah melalui pengomposan tinja dan sampah organik untuk dijadikan pellet. Pengomposan yang menghasilkan panas hingga 71°C, efektif membunuh patogen. Pengomposan itu dilakukan di Srilanka dan dan pellet-nya dibawa ke Bochum.

Di Bochum, Fadli mempersiapkan tanah yang akan dicampur pellet. Adapun, pellet itu 70 persennya adalah tinja manusia dan 30 persennya sampah organik. Untuk mengukur kadar karbon dioksidanya, pellet akan diberi bahan tambahan seperti kalium hidroksida.

Melalui proses inkubasi selama 50 hari, para peneliti mengetahui berapa kadar jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari proses pernafasan mikroorganisme selama 50 hari. Semakin banyak karbon dioksida yang dihasilkan, semakin aktif miroorganisme, maka semakin subur tanah itu.

Sektor agraria selama ini banyak tergantung pada pupuk kimia yang harganya tidak murah. Selain itu pemakaian pupuk kimia secara berlebihan dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dan pencemaran lingkungan. Jika penelitian Fadli berhasil, bukan tidak mungkin ini dapat bermanfaat bagi penyediaan pupuk organik di Tanah Air.

Fadli berharap, projek yang didanai BMZ dan merupakan bentuk kerja sama antara International Water Management Institute di Srilanka, Universitas Bochum dan Universitas Bonn ini, bisa menjadi solusi yang tepat bagi negara yang mengalami masalah pengelolaan limbah sanitasi dan sampah perkotaan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya