Liputan6.com, Kabul: Pemerintah Afghanistan mengatakan pembunuhan mantan Presiden Burhanuddin Rabbani itu telah direncanakan Pakistan dan dilakukan oleh warga Pakistan. Pernyataan itu dibuat pada Ahad (2/10) kemarin setelah seorang pria terkait pembunuhan Rabbani ditangkap di lokasi pembunuhan di Quetta, Pakistan barat.
Laman NHK mewartakan, pria itu juga membeberkan semua hal mengenai pembunuhan Rabbani dan mengaku sudah membuat plot sejak berada di Pakistan. Ia juga mengatakan, pembom bunuh diri itu berasal dari sebuah kota perbatasan Chaman, dekat Quetta. Rabbani tewas di kediamannya di Kabul, ketika tengah bertemu dengan seorang pria yang meledakan bom tersembunyi pada 20 September [baca: Bom Bunuh Diri Tewaskan Mantan Presiden Rabbani].
Mantan presiden itu memang sejak lama sudah menjadi negosiator kunci dengan Taliban. Presiden Afghanistan Hamid Karzai berkomentar, pembunuhan Rabbani akan membuat dialog secara langsung dengan Taliban dan pemerintah Pakistan yang memiliki hubungan erat dengan Taliban. Mereka harus dilibatkan dalam negosiasi ini.
Afghanistan juga kembali kritis dengan Pakistan. Pihaknya mengatakan gerakan anti-teroris dan dialog dengan Taliban belum cukup. Afghanistan diharapkan bekerja lebih lanjut dengan Amerika Serikat untuk mencoba membujuk Pakistan berbuat lebih banyak dalam kasus ini.(JAY/AIS)
Laman NHK mewartakan, pria itu juga membeberkan semua hal mengenai pembunuhan Rabbani dan mengaku sudah membuat plot sejak berada di Pakistan. Ia juga mengatakan, pembom bunuh diri itu berasal dari sebuah kota perbatasan Chaman, dekat Quetta. Rabbani tewas di kediamannya di Kabul, ketika tengah bertemu dengan seorang pria yang meledakan bom tersembunyi pada 20 September [baca: Bom Bunuh Diri Tewaskan Mantan Presiden Rabbani].
Mantan presiden itu memang sejak lama sudah menjadi negosiator kunci dengan Taliban. Presiden Afghanistan Hamid Karzai berkomentar, pembunuhan Rabbani akan membuat dialog secara langsung dengan Taliban dan pemerintah Pakistan yang memiliki hubungan erat dengan Taliban. Mereka harus dilibatkan dalam negosiasi ini.
Afghanistan juga kembali kritis dengan Pakistan. Pihaknya mengatakan gerakan anti-teroris dan dialog dengan Taliban belum cukup. Afghanistan diharapkan bekerja lebih lanjut dengan Amerika Serikat untuk mencoba membujuk Pakistan berbuat lebih banyak dalam kasus ini.(JAY/AIS)