Diprotes Publik, Konten LGBT di Weibo Batal Dicekal

Media sosial Weibo yang populer di Tiongkok membatalkan rencana mereka untuk membersihkan konten gay karena diprotes publik.

oleh Tommy K. Rony diperbarui 17 Apr 2018, 15:00 WIB
Kue, permen, buah, dan sayuran pelangi ini ikut merayakan kemenangan cinta bagi LGBT.

Liputan6.com, Beijing - Media sosial Weibo yang populer di Tiongkok membatalkan rencana mereka untuk membersihkan konten gay karena diprotes publik.

Pada Jumat (13/4/2018) publik Tiongkok ramai-ramai mengecam langkah Weibo untuk membersihkan konten homoseksual, mulai dari gambar, komentar, sampai topiknya pun ikutan dicekal.

Baca Juga

Selain itu, Weibo juga dikecam akibat dituding melakukan generalisasi antara konten gay dan pornografi.

Tanpa disangka, langkah Weibo justru membuat puluhan ribu LGBT mengakui identitas mereka sebagai gay sambil pamer pasangan lewat tagar #IAMGAY, lengkap dengan emoji pelangi.

Meski protes mereka selalu dihapus oleh Weibo, ternyata kalangan LGBT berhasil menang dan membuat Weibo membatalkan aturannya. Akibatnya, hanya dalam tiga hari saja pencekalan konten gay dibatalkan.

"Kami tidak lagi menarget konten gay," tulis pihak admin Weibo pada Senin (16/4/2018).

Kalangan aktivis menyebutkan hal ini timbul karena pemerintah komunis Tiongkok terlalu menyensor internet.

"Masalah terbesar adalah budaya sensor yang ketat. Media sosial dulunya adalah ruang terbuka, tapi tahun lalu banyak yang mulai berubah," ujar Xiao Tie, kepala Pusat LGBT Beijing, seperti dikutip Reuters, Selasa (17/4/2018).

Sampai saat ini belum jelas apakah inisiatif mencekal konten gay adalah berasal dari Weibo sendiri atau dari pihak pemerintah.

2 dari 3 halaman

Pemerintah Komunis Selalu Anti-LGBT

Pengunjung berjalan di Forbidden City atau Kota Terlarang di Beijing, (7/3). Kota Terlarang, merupakan istana terisolasi kaisar Qing dan Dinasti Ming China untuk tempat wisata utama yang terletak di pusat ibu kota. (AP Photo/Aijaz Rahi)

Sebelumnya, ratusan orang turun ke jalan di Nanjing pada Sabtu (14/4/2018) karena protes kebijakan Weibo.

Kebetulan aksi itu sudah disetujui oleh pihak berwenang sebelum pencekalan konten gay dilakukan Weibo, sehingga para aktivis bisa sekalian melakukan protes ke Weibo.

Di Asia Timur, pemerintah komunis Tiongkok dan Korea Utara merupakan yang paling keras terhadap konten-konten LGBT.

Walaupun di Tiongkok menjadi gay tidak lagi digolongkan sebagai penyakit, tetapi publik masih belum mendapatkan pemahaman yang cukup.

Apa yang terjadi di dua negara komunis itu sangat berbeda dengan Taiwan, Jepang, dan Korea Selatan yang sudah mulai berani berpikiran terbuka pada kalangan LGBT.

3 dari 3 halaman

Ketatnya Sensor Internet di Tiongkok

Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un berjabat tangan selama pertemuan mereka di Beijing, Rabu (28/3). Ini adalah kunjungan perdana Kim Jong-un ke luar negeri semenjak ia memerintah 2011 silam. (Ju Peng/Xinhua via AP)

Tiongkok memiliki kebijakan sensor internet yang ketat. Orang-orang yang tidak mau ikut peraturan bisa dijemput oleh pihak berwenang untuk dimintai keterangan.

Semua media sosial di Tiongkok pun dipantau oleh pemerintah. Apabila ada yang berani mendiskusikan topik-topik yang tidak diizinkan, pihak berwenang dapat dengan mudah menghapus komentar atau akun tersebut.

Maka, satu-satunya alternatif yang dapat dilakukan warganet Tiongkok adalah memakai kode ketika ingin membicarakan topik sensitif.

(Tom/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya