Liputan6.com, Jakarta - Menjadi seorang pelatih klub sepak bola Eropa merupakan salah satu pekerjaan yang berisiko tinggi untuk dipecat. Kebiasaan klub-klub Eropa yang menuntut hasil instan membuat kursi pelatih selalu panas.
Sederet pelatih kerap menjadi kambing hitam atas performa tim yang buruk. Manajemen lebih rela mengorbankan sang pelatih untuk dipecat.
Advertisement
Frank de Boer jadi contoh anyar. Dia dipecat hanya dalam enam laga memimpin Crystal Palace di Liga Inggris, padahal sebelumnya juga dia dipecat Inter Milan.
Sulit menemukan pelatih seperti Sir Alex Ferguson kala menangani Manchester United dan Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, yang mampu bertahan hingga berpuluh tahun di kursinya. Ferguson dan Wenger jadi contoh hubungan yang baik antara klub dengan pelatih.
Kini, musim 2017-2018 sudah mendekati akhir. Dengan hanya enam atau tujuh pertandingan tersisa, beberapa pelatih di bawah diprediksi akan angkat kaki akhir musim ini.
Para pelatih itu dinilai membuat penampilan tim malah menurun. Siapa saja 5 manajer yang akan dipecat saat musim ini berakhir? Berikut daftarnya dikutip Sportskeeda:
1. Unai Emery (PSG)
Tampaknya gila untuk berpikir bahwa seorang manajer yang telah membawa timnya ke puncak klasemen dengan celah 16 poin besar dari peringkat dua akan dipecat. Namun faktanya mungkin akan terjadi pada Unai Emery.
Di bawah pemilik yang kaya, PSG adalah proyek raksasa dan tujuannya adalah Liga Champions. Jadi ketika mereka datang keluar dari kompetisi itu melawan Real Madrid di babak 16 besar, Emery sudah menuju pintu keluar.
Sebenarnya, PSG pantas untuk lolos ke babak selanjutnya. Namun Emery mengambil beberapa kesalahan. Dia membuat timnya terlalu terbuka di Santiago Bernabeu.
PSG memang memenangkan Coupe de la Ligue baru-baru ini, tetapi ini masih belum cukup. Cukup mengejutkan ketika Emery bahkan selamat sampai musim ini setelah timnya kalah dari Monaco untuk memenangkan Ligue 1 musim lalu.
2. Paul Lambert (Stoke City)
Manajer asal Skotlandia itu cukup mengecewakan ketika mengambil alih tim dari Mark Hughes pada bulan Januari. Musim terakhirnya di EPL telah berakhir menyedihkan, dengan rasio kemenangan 29,6% bersama Aston Villa.