Petugas Main Tarik-ulur dengan Harimau Bonita

Upaya penangkapan harimau Bonita belum berakhir karena harimau tersebut belum berhasil ditangkap setelah ditembak bius.

Oleh RiauOnline.co.id diperbarui 26 Mar 2018, 13:30 WIB
Setelah Jumiati, karyawati perusahaan sawit pada awal Januari lalu, kini buruh bangunan bernama Yusri yang menjadi korban keganasan harimau di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. (M Syukur/Liputan6.com)

Pekanbaru - Pencarian harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Bonita oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau akan dikendurkan. Langkah itu dilakukan setelah selama sepekan terakhir Bonita menghilang dari pantauan petugas.

Ketua tim pencari dan penyelamat harimau Bonita, Mulyo Hutomo, di Pekanbaru, Senin mengatakan tim terakhir kali melihat harimau betina berusia empat tahun tersebut pada 19 Maret 2018 lalu.

"Perkiraan kita saat ini (Bonita) masih sembunyi di 'green belt' jalur hijau," katanya kepada Riauonline.co.id.

Ia menjelaskan, kawasan hutan yang dimaksud merupakan jalur hijau atau green belt yang berbatasan langsung dengan perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP), Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir.

Selama dua bulan terakhir, Bonita terus berkeliaran di perkebunan sawit milik perusahaan Malaysia tersebut. Selama itu pula si raja hutan yang diketahui berjenis kelamin betina dan berusia sekitar empat tahun tersebut telah menewaskan dua warga.

Hutomo menjelaskan usai penembakan bius yang dilakukan tim pada 16 Maret 2018 lalu, harimau Bonita mulai sadar akan keberadaan petugas. Untuk itu, raja hutan itu mulai menyingkir dan meninggalkan kawasan perkebunan dan mulai masuk ke jalur hijau yang diperkirakan memiliki luas sekitar 22 kilometer persegi.

 

Baca berita menarik lainnya dari Riauonline.co.id di sini.

 

2 dari 2 halaman

Menyiapkan Umpan

Setelah Jumiati, karyawati perusahaan sawit pada awal Januari lalu, kini buruh bangunan bernama Yusri yang menjadi korban keganasan harimau di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. (M Syukur/Liputan6.com)

Sementara itu, guna memancing keluar harimau tersebut, Hutomo mengatakan tim pencari dan penyelamat Bonita yang terdiri dari TNI, Polri, BBKSDA Riau, serta unsur masyarakat berupaya mengendurkan pencarian.

"Kita mengendurkan tekanan. Ini strategi untuk memberikan fase pemulihan perilaku Bonita ada dapat lebih mudah mendekat ke kita, dan kita upayakan tembak (bius) lagi," jelasnya.

Selain itu, Hutomo juga menjelaskan tim pencari dan penyelamat Bonita telah menyiapkan umpan-umpan di posisi strategis untuk memancing keluar satwa dilindungi tersebut.

Bonita menjadi perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir setelah menewaskan dua korban. Jumiati, menjadi korban pertama yang meninggal pada awal Januari 2018. Perempuan berusia 33 tahun tersebut diserang Bonita saat bekerja di KCB 76 Blok 10 Afdeling IV Eboni State, Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Indragiri Hilir.

Terakhir, Yusri Efendi (34) menjadi korban harimau Bonita di desa yang sama, berjarak sekitar 15 kilometer dari lokasi tewasnya Jumiati.

 

Simak video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya