Liputan6.com, Jakarta: Anak-anak Papua butuh pendidikan. Untuk itulah Daniel Alexander datang ke tanah Papua mencurahkan hidup dan cintanya demi anak-anak di Bumi Cenderawasih yang dinilainya jauh tertinggal dibanding daerah lain. Memasuki dekade 90-an Daniel memantapkan hatinya menetap di Nabire meninggalkan studi dan segala kemapanan hidup duniawi di Negeri Kanguru.
Istrinya, Lucy Luise Tanudjaja, diajaknya serta untuk satu misi, pendidikan dan anak-anak di Papua. Daniel menjemput satu per satu anak-anak di suku-suku pedalaman dan memintanya menjadi siswa taman kanak-kanak di sekolah sekaligus asrama yang ia bangun di Sugapa.
Sepintas, itu pekerjaan mudah. Tapi faktanya tak sesederhana yang dibayangkan. Kebanyakan orangtua menentang ide Daniel. Dari satu desa, Daniel meluaskan misinya ke desa lain. Bersama Yayasan Anak Indonesia, dia berhasil membangun sejumlah TK. Menyusul sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Semua dengan sistem asrama dan menerapkan kurikulum internasional.
SMA Anak Panahm di Nabire yang didirikan Daniel kini menjadi kebanggaan warga Papua. Angkatan pertama anak asuh Daniel banyak mendapat beasiswa pendidikan tinggi di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Daniel, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 22 Maret 1956 ini, bertekad terus membangun mimpi-mimpi indahnya tentang tanah Papua lewat dunia pendidikan. Daniel yakin hanya dengan berbekal pendidikan, anak-anak Papua nantinya bisa mensejahterakan kampung halamannya.(ASW/ULF)
Istrinya, Lucy Luise Tanudjaja, diajaknya serta untuk satu misi, pendidikan dan anak-anak di Papua. Daniel menjemput satu per satu anak-anak di suku-suku pedalaman dan memintanya menjadi siswa taman kanak-kanak di sekolah sekaligus asrama yang ia bangun di Sugapa.
Sepintas, itu pekerjaan mudah. Tapi faktanya tak sesederhana yang dibayangkan. Kebanyakan orangtua menentang ide Daniel. Dari satu desa, Daniel meluaskan misinya ke desa lain. Bersama Yayasan Anak Indonesia, dia berhasil membangun sejumlah TK. Menyusul sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Semua dengan sistem asrama dan menerapkan kurikulum internasional.
SMA Anak Panahm di Nabire yang didirikan Daniel kini menjadi kebanggaan warga Papua. Angkatan pertama anak asuh Daniel banyak mendapat beasiswa pendidikan tinggi di sejumlah kampus di Pulau Jawa. Daniel, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 22 Maret 1956 ini, bertekad terus membangun mimpi-mimpi indahnya tentang tanah Papua lewat dunia pendidikan. Daniel yakin hanya dengan berbekal pendidikan, anak-anak Papua nantinya bisa mensejahterakan kampung halamannya.(ASW/ULF)