Liputan6.com, Jakarta: Kaki berbentuk O ataupun X hampir dapat dipastikan sangat menggangu penampilan. Selain itu, bentuk kaki yang tak normal ini juga bisa menimbulkan nyeri pada panggul dan pinggang. Untungnya, perkembangan ilmu medis saat ini telah menciptakan "alas kaki khusus" yang berfungsi mencegah kelainan bentuk tungkai kaki. "Lakukanlah pencegahan sedini mungkin," jelas dokter Meidy Triangto dari Spesialis Rehabilitasi Medik Klinik Prodik di Jakarta, baru-baru ini.
Meidy menjelaskan, perkembangan bentuk tulang, termasuk tulang tungkai kaki dimulai sejak anak dalam kandungan. Lantaran itulah, ketidaksempurnaan bentuk tungkai kaki dapat disebabkan oleh rahim yang sempit dan posisi janin yang sungsang. Meidy menambahkan, perkembangan bentuk tulang masih terus terjadi hingga umur tujuh tahun. Selain alasan tadi, kelalaian dalam mengasuh anak juga dapat menjadi pemicu bentuk kaki O ataupun X. Misalnya, pemakaian popok sekali pakai yang terlalu lama dan cara menggendong yang salah. Penyebab lain yaitu defisiensi atau kekurangan kalsium dan mineral serta kegemukan.
Namun pada dasarnya, kata Meidy, bayi di bawah usia dua tahun yang berkaki O masih tergolong normal. Dalam perkembangannya, bentuk kaki bayi itu akan berubah menjadi X. Kondisi kaki dapat dikatakan cacat jika pada usia di atas empat tahun bentuk kaki tak melurus, yakni jika ukuran sudut antara paha dan tulang bawah lebih dari 8,4 derajat (kaki O) atau jarak antar mata kaki lebih dari 3,64 sentimeter (kaki X). "Ukuran akurat ini hanya dapat ditentukan dokter dengan cara medis," ujar Meidy.
Kelainan bentuk kaki dapat diperbaki jika umur anak masih di bawah tujuh tahun. "Tapi sebaiknya pemeriksaan dilakukan sedini mungkin," kilah Meidy. Saat ini, perkembangan medis menawarkan koreksi dini dengan menggunakan alas kaki khusus yang dipasang dalam sepatu yang dikenakan anak. Agar berfungsi maksimal, penggunaan alas kaki itu harus dikoreksi beberapa bulan sekali sesuai perkembangan sang anak. Tak hanya menggunakan alas kaki khusus, anak juga harus melaksanakan sejumlah latihan cara berjalan khusus untuk merangsang pergerakan kaki ke arah normal. Anak berkaki O juga dilarang duduk bersila. Tapi menurut Meidy, peran orangtua tetap menjadi yang terpenting dalam mendukung program koreksi dini ini.(MTA/Mira Permatasari dan Bambang Triono)
Meidy menjelaskan, perkembangan bentuk tulang, termasuk tulang tungkai kaki dimulai sejak anak dalam kandungan. Lantaran itulah, ketidaksempurnaan bentuk tungkai kaki dapat disebabkan oleh rahim yang sempit dan posisi janin yang sungsang. Meidy menambahkan, perkembangan bentuk tulang masih terus terjadi hingga umur tujuh tahun. Selain alasan tadi, kelalaian dalam mengasuh anak juga dapat menjadi pemicu bentuk kaki O ataupun X. Misalnya, pemakaian popok sekali pakai yang terlalu lama dan cara menggendong yang salah. Penyebab lain yaitu defisiensi atau kekurangan kalsium dan mineral serta kegemukan.
Namun pada dasarnya, kata Meidy, bayi di bawah usia dua tahun yang berkaki O masih tergolong normal. Dalam perkembangannya, bentuk kaki bayi itu akan berubah menjadi X. Kondisi kaki dapat dikatakan cacat jika pada usia di atas empat tahun bentuk kaki tak melurus, yakni jika ukuran sudut antara paha dan tulang bawah lebih dari 8,4 derajat (kaki O) atau jarak antar mata kaki lebih dari 3,64 sentimeter (kaki X). "Ukuran akurat ini hanya dapat ditentukan dokter dengan cara medis," ujar Meidy.
Kelainan bentuk kaki dapat diperbaki jika umur anak masih di bawah tujuh tahun. "Tapi sebaiknya pemeriksaan dilakukan sedini mungkin," kilah Meidy. Saat ini, perkembangan medis menawarkan koreksi dini dengan menggunakan alas kaki khusus yang dipasang dalam sepatu yang dikenakan anak. Agar berfungsi maksimal, penggunaan alas kaki itu harus dikoreksi beberapa bulan sekali sesuai perkembangan sang anak. Tak hanya menggunakan alas kaki khusus, anak juga harus melaksanakan sejumlah latihan cara berjalan khusus untuk merangsang pergerakan kaki ke arah normal. Anak berkaki O juga dilarang duduk bersila. Tapi menurut Meidy, peran orangtua tetap menjadi yang terpenting dalam mendukung program koreksi dini ini.(MTA/Mira Permatasari dan Bambang Triono)