Presiden Palestina Tolak Telepon dari Menantu Donald Trump?

Jared Kushner, menantu yang juga penasihat senior Donald Trump adalah mediator perdamaian Israel-Palestina.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 24 Nov 2017, 20:20 WIB
Jared Kushner, menantu Donald Trump yang juga menjabat sebagai penasihat senior presiden AS (AP Photo/Pablo Martinez Monsivais)

Liputan6.com, Ramallah - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Rabu waktu setempat dikabarkan menolak menerima telepon dari penasihat senior Donald Trump yang juga menantunya, Jared Kushner. Padahal Trump menunjuk Kushner sebagai "calo" perdamaian Israel-Palestina.

Alih-alih menerima telepon Kushner, Abbas justru merujuknya ke perwakilan Otoritas Palestina di Washington. Demikian menurut stasiun TV Lebanon, Al-Mayadeen seperti dilansir haaretz.com pada Jumat (24/11/2017).

Gedung Putih telah membantah laporan tersebut. Demikian pula pihak Palestina yang menyatakan bahwa Abbas menghormati Kushner serta tugasnya.

Kabar ini mencuat di tengah instruksi Presiden Abbas pada Selasa untuk membekukan kontak dengan AS menyusul ancaman Trump yang akan menutup misi Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Washington.

Ancaman tersebut dipicu oleh tuntutan AS agar Palestina berhenti berusaha menyeret Israel ke Pengadilan Pidana Internasional Den Haag juga tidak menentang inisiatif perdamaian AS.

Juru Bicara Abbas, Nabil Abu Rudeineh, pada hari Selasa mengatakan bahwa "periode yang akan datang menjadi keputusan yang akan menentukan definisi hubungan Palestina-AS."

Adapun Wakil Presiden AS Mike Pence kabarnya dijadwalkan akan mengunjungi Bethlehem pada Desember mendatang.

Seorang pejabat senior pemerintah Palestina yang dekat dengan informasi tersebut mengatakan pada Haaretz bahwa instruksi Abbas untuk memutuskan hubungan dengan AS dimaksukan pada jajaran pejabat tinggi. Sementara di level rendah, keduanya akan terus berkomunikasi.

Sumber yang sama kemudian mengklarifikasi bahwa pejabat Palestina setuju untuk mengadakan pembicaraan dengan pejabat senior di pemerintahan Trump jika Washington memulai dialog.

"Apa yang penting bagi Palestina adalah menyampaikan pesan dan sikap yang jelas kepada AS, dan tidak memotong hubungan sembarangan," ungkap sumber tersebut.

Adapun seorang anggota senior otoritas Palestina menerangkan bahwa ancaman AS untuk menutup misi PLO di Washington adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sumber tersebut mengatakan bahwa ancaman itu memicu keretakan terbesar antara kedua pihak dalam beberapa tahun terakhir.

"Dalam pertemuan dengan Presiden Trump, Abbas menerima pesan yang sangat santai, dan di sisi lain kita berhadapan dengan sikap pemerintah (AS) yang menimbulkan keraguan terhadap keseluruhan hubungan," kata sumber tersebut. "Pertanyaan yang harus ditanyakan adalah: Bagaimana Gedung Putih menjelaskan perbedaan ini?".

Terlepas dari pesan tegas Abbas, Washington terus mendesak agar hubungan antara AS dan Otoritas Palestina tetap utuh.

Juru bicara Gedung Putih Heather Nauert mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa AS memiliki hubungan baik dengan Otoritas Palestina dan bahwa pembicaraan dengan Palestina tentang masa depan kantor PLO di Washington masih berlangsung.

Nauert menambahkan bahwa pada saat ini, misi PLO masih beroperasi seperti biasa. Menurutnya, pemerintah Trump belum melepaskan ambisinya untuk membantu mewujudkan perdamaian Israel-Palestina, sebuah tujuan yang didefinisikan sebagai "prioritas utama" di Gedung Putih.

Berbicara kepada Haaretz pada hari Rabu malam, seorang pejabat pemerintah Palestina mengatakan bahwa Gedung Putih telah berusaha untuk menghubungi Otoritas Palestina dan mengundang Abbas untuk mengadakan pertemuan di Washington dalam beberapa minggu mendatang. Namun belum ada tanggapan dari Otoritas Palestina.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya