Dolar AS dan Bursa Saham Bayangi Harga Emas

Analis perkirakan harga emas tertekan pada pekan ini seiring penguatan dolar AS dan bursa saham.

oleh Agustina Melani diperbarui 23 Okt 2017, 06:45 WIB
Ilustrasi Logam Mulia (iStockphoto)

Liputan6.com, New York - Pergerakan harga emas akan dipengaruhi dolar Amerika Serikat (AS) dan pasar saham seiring rilis data ekonomi yang sepi. Dolar AS dan pasar saham cenderung menguat seiring rencana pemerintah AS melaksanakan reformasi pajak bakal terwujud.

Pada pekan lalu, harga emas ditransaksikan di kisaran US$ 1.281,10 per ounce. Harga perak untuk pengiriman Desember diperdagangkan di kisaran US$ 17.255 per ounce, turun satu persen dari pekan lalu.Logam mulia tertekan seiring sentimen positif di pasar.

Dolar AS dan saham menguat usai senator AS memilih menyetujui rencana fiskal 2018. Selain itu, aturan tersebut juga berisi proposal rekonsiliasi yang memungkinkan Partai Republik untuk mendorong Undang-Undang perpajakan melalui senat.

Akan tetapi, perdebatan pajak belum selesai seiring aturan itu juga butuh persetujuan kalau setiap keringanan pajak harus netral untuk utang.

"Pasar melihat kemungkinan 75 persen kalau pajak turun pada tahun depan, dan ini menciptakan angin untuk dolar AS dan sentimen negatif untuk emas. Momentum dolar AS tidak akan segera hilang sehingga sulit untuk emas menguat dalam jangka pendek," ujar Adam Button, Analis Forexlive.com, seperti dikutip dari laman Kitco, Senin (23/10/2017).

Analis Forex.com Fawad Razaqzada memprediksi harga emas masih tertekan dalam waktu dekat seiring dolar AS dan pasar saham menguat. Dia menambahkan, tren tersebut belum akan berakhir dalam waktu dekat, dan menjual emas setiap reli.

"Saya pikir harga emas akan di bawah US$ 1.300, dan akan terus tertekan dalam waktu dekat," ujar dia.

Selain sentimen dolar AS, analis juga mengingatkan investor juga perhatikan pertemuan bank sentral Eropa yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneternya.Bank sentral Eropa diharapkan dapat merilis rencana quantative easing atau pelonggaran kebijakan moneternya.

Ia menuturkan, masih banyak ketidakpastian seputar bank sentral dan setiap retorika agresif dapat mendorong euro lebih tinggi terhadap dolar AS. Ini dapat mengangkat harga emas.

"Kami pikir Euro dapat memiliki ruang untuk sedikit lebih tinggi terhadap dolar AS, tetapi saya tidak tahu apakah akan cukup untuk meningkatkan harga emas," kata dia.

Nick Exarhos, Ekonom Senior CIBC World Market setuju kalau euro dapat menekan dolar AS. Namun, dia tidak mengharapkan aksi jual jual sehingga dapat mendorong penguatan harga emas.

"Kita lihat bagaimana pergerakan dolar AS semakin menguat. The Federal Reserve juga tidak terlalu agresif sehingga batasi dolar AS. Namun, harga emas dapat tertekan karena suku bunga semakin tinggi," ujar dia.

Sebagian besar analis melihat harga emas berpotensi ke US$ 1.300 per ounce. Analis mengingatkan, kalau level tersebut perlu dipertahankan agar menarik dana masuk ke pasar logam mulia.Sedangkan level support perlu diperhatikan dalam jangka pendek, Razaqzada mengingatkan posisi di kisaran US$ 1.277.

"Jika harga emas tembus di bawah level itu, harga emas berpotensi ke level US$ 1.233, dan saya tidak melihat banyak harga emas akan tertekan di bawah level support terutama di bawah US$ 1.200," ujar dia.

Sedangkan Button prediksi, harga emas dapat mengetes level US$ 1.200 per ounce. Sedangkan Presiden Direktur Blue Lines Futures Bill Baruch melihat harga emas di kisaran US$ 1.263-US$ 1.269 merupakan level kuat untuk melakukan aksi beli. "Saya tidak melihat dolar AS menguat lebih panjang," ujar dia.

Analis juga mengingatkan, pelaku pasar akan memperhatikan sejumlah data ekonomi antara lain data manufaktur dan pesanan barang. Selain itu juga ada rilis pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya