Museum AS Akan Mengembalikan Tengkorak Tentara PD I ke Australia

Setelah didesak oleh Australia, pihak museum AS tersebut sepakat untuk mengembalikan tengkorak ke tangan Negeri Kanguru.

oleh Rizki Akbar Hasan diperbarui 04 Okt 2017, 18:40 WIB
Pajangan tengkorak serdadu di The Mutter Museum, Philadelphia, Amerika Serikat (AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Museum medis di Amerika Serikat sepakat untuk menyerahkan tengkorak tentara ANZAC (Australia - New Zealand Army Corps) yang tewas pada Perang Dunia I kembali ke tangan pemerintah Australia. Prajurit ANZAC itu tewas akibat luka mengenaskan pada wajahnya di medan pertempuran Eropa sekitar satu abad yang lalu.

The Mutter Museum of the College of Physicians di Philadephia mengonfirmasi akan memulangkan tengkorak serdadu bernama Prajurit (Private) Thomas Hurdis dari Batalion ke-59 Australian Imperial Force ANZAC yang tewas pada 3 Oktober 1917. Demikian seperti dilansir The Guardian, Rabu (4/10/2017).

Pengembalian bagian tubuh serdadu itu terjadi usai mencuatnya kontroversi tentang terpajangnya tengkorak tersebut di The Mutter Museum, lengkap beserta deskripsi luka penyebab kematiannya.

Kontroversi bermula ketika pihak The Mutter Museum mengaku telah dihubungi oleh Angkatan Bersenjata Australia pada Agustus lalu.

Kontak itu terjadi pada bulan yang sama ketika The Guardian menulis artikel yang mengulas riwayat nasib dan identitas pajangan tengkorak tersebut --yang kemudian diketahui adalah Hurdis.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Atase Militer Kedutaan Australia di Washington, DC juga menyambangi dan mendesak museum untuk mengembalikan tengkorak Hurdis dan para serdadu lain ke negara asalnya.

"Upaya repatriasi (pemulangan dan pengembalian kembali) dan pemakaman Prajurit Hurdis merupakan tindakan konsisten kami (Australia) selama bertahun-tahun. Kami sejak lama berupaya untuk mencari dan mengidentifikasi jasad warga negara kami yang tewas anonim pada konflik bersenjata yang telah lalu," jelas rilis resmi atase militer Kedubes Australia di Washington, DC.

"Kami juga menekankan bahwa akses, pengelolaan, dan penggunaan tengkorak harus sepenuhnya sesuai dengan hukum serta protokol yang berlaku."

Merespons desakan itu, akhirnya pihak The Mutter Museum menurunkan tengkorak Prajurit Hurdis pada pekan lalu.

Dalam rilis resmi, pihak museum mengatakan, "Tengkorak itu diberikan kepada museum oleh pemerintah Inggris pada 1919 dan turut diawasi oleh British Medical Service. Tengkorak itu diberikan sebagai bagian dari koleksi yang ditujukan untuk studi oleh dokter militer yang melakukan operasi rekonstrukti pada tentara."

Akan tetapi, penjelasan itu justru bertentangan dengan deskripsi yang sebelumnya sempat tercantum pada papan keterangan pameran dan laman elektronik resmi museum, yang bertuliskan;

"Tengkorak tersebut disumbangkan pada 1917 oleh dokter spesialis mata Philadelphia, WT Shoemaker yang merawat luka Hurdis di sebuah rumah sakit militer AS di Prancis."

"Tengkorak tentara Australia ini memiliki kerusakan parah akibat luka peluru dalam Pertempuran Passchendaele (atau Third Ypres, Battle of Polygon Wood) PD I. Dia ditembak pada 28 September 1917. Sebagian besar kerusakan disebabkan oleh peluru timbal yang masuk ke mulut dan melewati langit-langit serta mata kanan," lanjut keterangan pihak museum tersebut.

Keterangan itu menambahkan, "Satu proyektil peluru menghancurkan tulang ramus atas rahang kanan, dan proyektil lain tersangkut di sinus frontal kiri."

Deskripsi resmi The Mutter Museum juga menjelaskan, dokter Shoemaker mengoperasi Hurdis di Prancis. Operasi berhasil menyelamatkan nyawa Hurdis, tapi hanya untuk sementara.

Lima hari kemudian, Prajurit yang akhirnya buta itu mengalami disorientasi, menyebabkan Hurdis merobek perban yang membungkus lukanya. Hal itu membuat serdadu itu mengalami pendarahan hingga tewas.

Usai meninggal, jasad Hurdis --terkecuali tengkoraknya-- dikebumikan di Le Treport, Prancis. Tak dijelaskan detail pihak yang mengklaim tengkorak Hurdis (apakah pemerintah Inggris atau dokter Shoemaker).

Tindakan untuk menyimpan sampel jasad para tentara yang tewas dalam pertempuran historik telah menjadi praktik lumrah bagi militer AS dan Britania Raya --beserta persemakmurannya-- dengan mengatasnamakan demi kepentingan ilmu pengetahuan. Bahkan beberapa di antaranya, seperti kasus Hurdis, dilakukan tanpa izin atau sepengetahuan pihak keluarga atau kerabat jasad.

Direktur The Mutter Museum, Robert Hicks mengatakan, "Kami sangat mengapresiasi langkah pemerintah Australia. Misi mengumpulkan kembali jasad para tentara yang tewas di medan perang adalah perbuatan mulia."

"Kami menekankan bahwa segala hal yang kami lakukan (terhadap tengkorak dan sisa jasad manusia lain) sangat memperhatikan etika, hukum, dan protokol yang ada sesuai standar permuseuman di AS."

Usai dikembalikan, tengkorak Prajurit Hurdis akan disemayamkan di tempat jasadnya beristirahat untuk terakhir kali di Le Treport, Prancis.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya