Trawas Trashing Carnival Tampilkan Kostum Unik Berbahan Sampah

Komunitas Trawas Trashing Carnival (TTC) mampu mengulik sisi positif dari menjamurnya sampah menjadi mahakarya kostum unik. Penasaran?

oleh Dian Kurniawan diperbarui 03 Okt 2017, 07:16 WIB
Komunitas Trawas Trashing Carnival (TTC) mampu mengulik sisi positif dari menjamurnya sampah menjadi mahakarya kostum unik. Penasaran?

 

Liputan6.com, Mojokerto Tak terkontrolnya sampah rumah tangga kerap kali memunculkan keresahan dalam aspek lingkungan dan kesehatan. Namun tidak bagi sekumpulan warga di Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Komunitas Trawas Trashing Carnival (TTC) mampu mengulik sisi positif dari menjamurnya sampah menjadi mahakarya kostum unik bertema fantasi Kerajaan Majapahit.

Kostum unik terbuat dari sampah

Tak jarang, kostum-kostum tersebut kerap kali muncul dalam acara festival di berbagai kota di Jawa Timur. Berbagai bentuk kostum Ratu Kencana Wungu, Surya Majapahit, Pohon Maja, Pusaka Majapahit, hingga burung Garuda telah diciptakan.

“Kami menampung semua limbah sampah masyarakat, dari sampah-sampah plastik, kardus, karton susu atau bungkus rokok bisa kita manfaatkan,” tutur Presiden TTC Tri Mulyanto, Senin (2/10/2017).

Bermula pada tahun 2014, sekelompok pecinta lingkungan itu ingin mengikuti karnaval tahunan yang diadakan pemerintah setempat dengan gaya yang unik. Para ibu rumah tangga pun kompak mengumpulkan barang-barang bekas dari rumah masing-masing untuk disulap menjadi kostum Majapahitan. Meski sempat kebingungan karena harus belajar secara otodidak, namun keuletan menjadi kunci terbentuknya karya tersebut.

“Memang tidak mudah awalnya, kendala yang paling rumit adalah kerangka yang mudah patah. Dulu ini nggak pakai sayap-sayapan gitu, jadi kostumnya yang benar-benar polos," katanya.

Setahun kemudian, Tri dan kawan-kawan mencoba menambah keunikan dan ciri khas kostum agar bisa dikenang warga. Ia pun harus menimbah ilmu sampai ke daerah Banyuwangi dan Jember untuk belajar cara membuat aksesoris sayap, mahkota dan ekor. Hasilnya, kostum kolosal Majapahitan selalu mampu menghipnotis penonton di acara-acara parade dan festival di berbagai kota.

"Kostum kami paling berat sampai 30 kg, dan itu tidak pakai tambahan bantuan roda untuk menariknya. Padahal jalanan di Trawas kan naik turun, itu yang membuat beberapa pengunjung salut dengan karya TTC," ucapnya.

Proses pembuatan kostum

Tim TTC awalnya membutuhkan waktu hingga tiga minggu dalam penggarapan satu buah kostum. Namun, seiring kelihaian tangan, saat ini mereka hanya butuh waktu kurang dari sepekan. Rangka yang digunakan pun berganti-ganti, pernah dibuat dari besi hingga kemudian diganti dengan galvalum untuk mengurangi beratnya.

“Kalau dulu kita masih bongkar pasang, jika dirasa pakai triplek terlalu berat, kita ganti dengan spon sandal. Lalu pernah pakai besi, dan ternyata berat sekali kemudian ganti gavalum,” ujar Tri.

Kostum unik terbuat dari sampah

Kerja keras itu pun membuahkan hasil dengan menjuarai berbagai perlombaan. Seperti, Parade Batik Kota Mojokerto di tahun 2015 dan 2017, Tretes Fashion Carnival 2016. Dari sinilah, kostum-kostum yang dimiliki TTC mulai dilirik para peminat yang tak hanya dari kalangan orang dewasa, melainkan kostum untuk karnaval Taman Kanak-kanak pun pernah dibuatnya.

“Pernah kami membuat untuk anak TK, kemudian kostum tim ibu PKK Kabupaten Mojokerto untuk acara jambore di Malang. Harganya macam-macam, untuk anak-anak Rp 200 ribu dan yang paling mahal Rp 1,5 juta,” tuturnya.

Meski semakin menjamur pesanan, tapi Tri tak pernah meninggalkan identitas Mojokerto yakni Kerajaan Majapahit. Tema Majapahit selalu disisipkan mulai dari pusaka, artefak hingga pernak pernik lainnya.

"Ini identitas yang membedakan TTC dengan kostum karnaval lainnya. Ketika orang melihat, mereka akan tahu bahwa kami dari Mojokerto," ujarnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya