Liputan6.com, Natuna: Para nelayan di Kabupaten Natuna mengeluh pencurian ikan yang dilakukan nelayan Thailand. Sebab, selain menggunakan peralatan yang lebih canggih, nelayan Thailand juga kerap membawa senjata yang digunakan untuk kontak senjata dengan TNI Angkatan Laut. Persoalan ini mengemuka dalam dialog antara nelayan dan Bupati Natuna Hamid Rizal, baru-baru ini.
Menurut nelayan, ulah para nelayan Thailand ini sudah berlangsung lama. Akibat ulah nelayan Thailand, negara dirugikan puluhan miliar setiap tahunnya. Hamid Rizal mengungkapkan, aksi pencurian ikan diduga memiliki hubungan dengan para pengusaha dan oknum aparat keamanan di Jakarta. Dugaan ini diperkuat dengan penemuan sejumlah dokumen kapal yang ditangkap Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat.
Untuk menjaga Perairan Laut Natuna, Hamid Rizal berjanji bakal mengoptimalkan pengelolaan hasil laut. Itulah sebabnya, ia mengusulkan agar pemerintah pusat menyerahkan pengelolaan Laut Natuna kepada Pemda setempat. Saat ini, Pemda Natuna hanya mendapat pemasukan kurang Rp 700 juta per tahun. Padahal, jika pengelolaan diserahkan ke Pemda, bukan tak mungkin konstribusi pendapatan asli daerah bisa mencapai Rp 10 miliar.(ULF/Erwan Bunatro dan Aloysius Aran)
Menurut nelayan, ulah para nelayan Thailand ini sudah berlangsung lama. Akibat ulah nelayan Thailand, negara dirugikan puluhan miliar setiap tahunnya. Hamid Rizal mengungkapkan, aksi pencurian ikan diduga memiliki hubungan dengan para pengusaha dan oknum aparat keamanan di Jakarta. Dugaan ini diperkuat dengan penemuan sejumlah dokumen kapal yang ditangkap Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat.
Untuk menjaga Perairan Laut Natuna, Hamid Rizal berjanji bakal mengoptimalkan pengelolaan hasil laut. Itulah sebabnya, ia mengusulkan agar pemerintah pusat menyerahkan pengelolaan Laut Natuna kepada Pemda setempat. Saat ini, Pemda Natuna hanya mendapat pemasukan kurang Rp 700 juta per tahun. Padahal, jika pengelolaan diserahkan ke Pemda, bukan tak mungkin konstribusi pendapatan asli daerah bisa mencapai Rp 10 miliar.(ULF/Erwan Bunatro dan Aloysius Aran)