Jangan Lupakan Sejarah Jika Tak Ingin Tercerabut dari Akar Bangsa

Faktor lain yang menyebab bangsa ini tercerabut dari akarnya, menurut anggota MPR dari Fraksi PAN, Haeruddin, karena kita melupakan sejarah.

oleh Gilar Ramdhani diperbarui 21 Agu 2017, 17:07 WIB
Faktor lain yang menyebab bangsa ini tercerabut dari akarnya, menurut anggota MPR dari Fraksi PAN, Haeruddin, karena kita melupakan sejarah.

Liputan6.com, Jakarta Jika sebuah bangsa tercerabut dari akarnya maka bangsa itu akan menunggu kematian.

"Inilah yang perlu diwaspadai," ujar anggota MPR dari Fraksi PAN, Haeruddin Amin di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Sangga Buana, Bandung, Jawa Barat, 21 Agustus 2017, saat memberi Sosialisasi Empat Pilar MPR.

Diungkapkan, bangsa ini sedang dalam kondisi darurat narkoba. Narkoba membunuh banyak orang. Lima juta orang terkena penyalahgunaan obat-obat terlarang. Lima puluh orang mati dalam sehari karena narkoba. Narkoba telah membunuh generasi muda.

"Mudah-mudahan yang di sini bersih dari narkoba," tegas Haeruddin.

Faktor lain yang menyebab bangsa ini tercerabut dari akarnya karena kita melupakan sejarah. Untuk menjadi sebuah negara, memerlukan waktu ratusan tahun, perlu waktu yang panjang.

"Indonesia tak serta merta menjadi sebuah bangsa," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Haeruddin memaparkan berbagai sejarah bangsa, mulai dari jaman kerajaan nusantara hingga jaman pergerakan. Semua sejarah yang ada, mengandung dan memberikan proses penguatan nilai-nilai kebangsaan.

"Kita mudah diadu domba karena sejarah tak pernah dibuka," ujarnya.

"Sosialisasi ini juga sebagai upaya agar bangsa ini tak tercerabut dari akar bangsa," tambahnya.

Dalam sosialisasi itu dikatakan Indonesia adalah bangsa yang memiliki keragaman. Meski beragam namun sepakat untuk bersatu. "Kita bersatu untuk menghadirkan kemajuan, keadilan, dan kemakmuran," paparnya.

Pria asal Garut, Jawa Barat, itu mengajak semua untuk bersyukur sebab bangsa Indonesia masih ada. Ia membandingkan dengan Uni Soviet dan Jugoslavia yang sudah bubar. "Di sana bubar karena kemakmuran dan kesejahteraan tak hadir," ungkapnya.

Rektor Universitas Sangga Buana, Asep Effendi, dalam sambutan mengatakan sosialisasi ini penting sebab kalau dilihat di masyarakat ada gejala menurunnya pemahaman dan nilai kebangsaan.

"Allhamdulillah, kampus ini mencoba terus mengimplimentasikan Empat Pilar lewat Ospek dan kegiatan Menwa," paparnya.

Menurunnya paham dan nilai kebangsaan, menurut Asep, tak selayaknya kita menyalahkan pihak lain. Saat ini diakui ada orang yang tak hafal sila-sila Pancasila.

"Inilah yang kami anggap memprihatinkan," katanya. Untuk itu Sangga Buana melakukan berbagai kegiatan untuk mengingatkan Empat Pilar.

(*)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya