Membandingkan Anak Sendiri dengan Anak Lain Juga Bullying

Hentikan kebiasaan membandingkan anak sendiri dengan anak lainnya karena hal ini termasuk kategori bullying.

oleh Fitri Haryanti Harsono diperbarui 25 Jul 2017, 15:00 WIB
Jangan suka membandingkan anak dengan anak lain.

Liputan6.com, Jakarta Selama ini perundungan (bullying) kerap dilakukan dengan tindak kekerasan fisik maupun olok-olokan ucapan dari orang lain. Hal ini akan membuat korban bullying, terutama anak-anak tidak nyaman dengan lingkungan sekitarnya.

Selain itu, ada pula jenis tindakan lain yang dilakukan orangtua dan bisa berdampak negatif, yakni membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak lainnya. Misal, "Teman kamu bisa dapat nilai 100, kok kamu tidak bisa?".

Tindakan ini ternyata termasuk dalam kategori bullying. Orangtua mungkin kurang menyadari kalau mereka bersikap membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak lain.

"Orangtua sebaiknya tidak membanding-bandingkan anak sendiri dengan yang lain. Yang perlu diketahui orangtua, yakni yakinkan semua anak itu hebat dan cerdas. Semua anak itu cerdas," ungkap Seto Mulyadi, psikolog anak yang akrab disapa Kak Seto dalam acara Hari Anak Nasional 2017 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Selasa (25/7/2017).

Menilik hal ini, Kak Seto menceritakan pengalaman hidupnya saat sekolah dulu. Dulu semasa sekolah, tes matematika Kak Seto hanya dapat nilai empat.

"Melihat nilai matematika saya jelek, orangtua justru meyakinkan saya, 'Kamu bisa, kok.' Saya selalu diyakinkan orangtua sejak kecil kalau saya itu 'bisa.' Lama-lama saya bisa juga," tambah Kak Seto.

Selain itu, Kak Seto juga mengingatkan, tiap orangtua perlu memberikan apresiasi terhadap anak. Katakan pada anak, "Kamu cerdas." Cara ini dapat membuat anak tetap percaya diri untuk belajar lebih rajin. Anak pun merasa lebih dihargai oleh orangtua. 

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya