Mengenal Misophonia yang Bisa Bikin Pengidapnya Mudah Emosi

Pernahkah Anda merasa kesal dan emosi saat mendengar suara klakson atau kendaraan yang berisik? Mungkin ini penyebabnya.

oleh Bella Jufita Putri diperbarui 13 Jul 2017, 07:00 WIB
Pernahkah Anda merasa kesal dan emosi saat mendengar suara klakson atau kendaraan yang berisik? Mungkin ini penyebabnya.

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang berasumsi kemacetan jalanan dapat membuat seseorang mudah emosi dan stres. Namun, hal tersebut dapat terjadi bukan karena kemacetan saja, melainkan juga akibat suara bising yang berasal dari klakson motor atau mobil di jalanan. Terutama, bagi mereka yang memiliki misophonia. Apakah itu?

Secara medis, misophonia ialah gangguan emosi dan fisik yang dipicu oleh suara. Bahkan, mereka yang mengalami kondisi ini bisa merasa cemas berlebihan saat berada di lingkungan bising.

Melansir laman Misophonia, Kamis (13/7/2017), selain suara klakson, mereka yang mengalami kondisi ini juga akan sensitif saat mendengar suara teriakan, tangisan bayi, suara kendaraan, atau alat berat di area pembangunan. Bahkan pada kasus parah, penderita juga tidak bisa mendengar suara mengunyah, mengecap, berdeham, bahkan suara kecil seperti ketukan meja.

Keadaan psikologis ini bisa terjadi seumur hidup yang dimulai sejak usia sembilan sampai 13. Tidak ada penyebab khusus yang mendasari kondisi ini, misophonia bisa terjadi secara tiba-tiba.

Dalam suatu studi yang terbit di Current Biology, peneliti tidak menemukan perbedaan sistem otak terhadap suara bagi mereka yang normal dan memiliki misophonia. Hanya saja, perbedaannya terletak pada detak jantung.

Saat individu dengan misophonia mendengar suara yang mengganggu, detak jantung mereka akan melonjak, berdetak lebih kencang, berkeringat dan mengeluarkan respons cemas lainnya. Orang dengan misophonia juga kerap mengeluh rasa sakit secara fisik seperti sakit kepala, nyeri dada, atau bahkan rasa nyeri di seluruh tubuh.

Untuk mengatasinya, pengidap misophonia dianjurkan untuk rutin meditasi. Jika misophonia sudah sangat parah, segera konsultasi dengan psikiater untuk mendapat pengobatan tepat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya