24 Pengungsi Ilegal Tewas Ditemukan di Lepas Pantai Libya

Dari ribuan pengungsi yang berhasil di cegat, sedikitnya 24 orang pengungsi ilegal telah ditemukan dalam kondisi meninggal.

oleh Teddy Tri Setio Berty diperbarui 28 Jun 2017, 21:38 WIB
Pengungsi ilegal yang dicegat oleh penjaga pantai Libya saat hendak menyeberang daratan Eropa (AFP)

Liputan6.com, Tripoli - Tim Relawan Palang Merah Internasional (Red Cross and Red Crescent) menemukan 24 jasad imigran pada Selasa 27 Juni 2017 malam, di wilayah timur Tripoli, Libya. Kala itu tim penyelamat melakukan pencarian dalam skala besar yang dilakukan di kawasan Laut Tengah.

Dikutip dari laman Arab News, Rabu (28/6/2017), warga di distrik Tajoura mengatakan, puluhan jasad tersebut telah terlihat pada akhir pekan lalu. Seorang petugas penjaga pantai setempat juga menuturkan bahwa beberapa di antaranya telah dimakan anjing liar.

Jumlah korban pun diperkirakan akan terus meningkat. Sebab, ribuan pengungsi ilegal berupaya menuju wilayah Eropa dengan kapal sederhana yang hanya berkapasitas 100 orang.

Sementara itu, kelompok bantuan Jerman menyebut, selama tindakan penelusuran yang dipimpin oleh kelompok Italia telah didapati korban tewas di Laut Mediterania. Tiga orang migran ditemukan dalam operasi pencarian tersebut.

Sementara itu ada 5.000 migran yang berhasil dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

"Telah ditemukan tiga orang meninggal, meski tak begitu banyak yang ditemukan, pihak kami akan terus berjuang untuk proses pencarian," ujar pihak Jugend Rettet sebuah kelompok kemanusiaan asal Jerman.

Jugend Rettet merupakan salah satu dari sembilan kelompok kemanusiaan yang berpartisipasi dalam pencarian migran di kawasan Laut Mediterania. Kawasan tersebut kerap dikenal sebagai jalur para pengungsi dan migran yang nekad melakukan perjalanan berbahaya selama empat tahun terakhir.

Menurut Badan Migrasi Internasional, sekitar 72.000 migran tiba di Italia dengan rute berbahaya dari Libya antara tanggal 1 Januari hingga 21 Juni 2017. Dari angka tersebut menunjukkan ada 20 persen peningkatan dibanding tahun 2016.

Insiden ini terjadi karena kondisi Libya yang tak aman untuk dihuni. Diduga konflik berkepanjangan sejak tahun 2011-lah yang menjadi pemicu utamanya. Negara tersebut telah menjadi tempat utama bagi para migran yang ingin melakukan keberangkatan ke Eropa.

Karena kondisi tersebut, banyak pihak tak bertanggung jawab yang memanfaatkan situasi. Beberapa oknum bahkan mengirim ribuan migran melalui kawasan laut tengah menuju Eropa.

Hal itu mengakibatkan banyak migran tewas akibat kapal yang mereka tumpangi tenggelam akibat muatan berlebih. Tak sedikit pula para pengungsi yang ditangkap oleh kapal-kapal Eropa, karena memasuki kawasan perairan internasional secara ilegal.

Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Migrasi Internasional mencatat Libya telah melayani puluhan ribu pengungsi tak berdokumen resmi yang ingin masuk wilayah Eropa melalui jalur laut.

Hingga kini Eropa masih menghadapi permasalahan migran gelap yang sebagian besar berasal dari zona konflik. Seperti Afrika Utara dan Timur Tengah terutama pengungsi asal Suriah.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya