RI Jadi Negara Tujuan Investasi Prospektif, Ini Janji Menkeu

Kenaikan ranking Indonesia sebagai negara tujuan investasi dari UNCTAD akan terus diiringi dengan upaya pemerintah menjaga iklim investasi.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 12 Jun 2017, 17:16 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Liputan6.com/Fatkhur Rozaq)

Liputan6.com, Jakarta United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) merilis laporan kenaikan peringkat Indonesia ke posisi 4 sebagai negara tujuan investasi paling prospektif kurun waktu 2017-2019. Prestasi ini ditorehkan Indonesia pasca menerima predikat investment grade dari lembaga pemeringkat global, Standard & Poor's.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyadari potensi Indonesia dalam menarik investasi sebanyak mungkin dari dalam dan luar negeri setelah mengantongi investment grade dari tiga lembaga pemeringkat. Kenaikan ranking Indonesia sebagai negara tujuan investasi dari UNCTAD akan terus diiringi dengan upaya pemerintah menjaga iklim investasi di Tanah Air.

"Secara konsisten kami akan terus memperbaiki iklim investasi. Tapi kan kami perlu spesifik mengenai targetnya," tegas Sri Mulyani usai menghadiri Raker RAPBN 2018 dengan Komisi XI di Gedung DPR, Jakarta, Senin (12/6/2017).

Menurutnya, investasi merupakan kunci atau sumber pertumbuhan ekonomi agar lebih tinggi dan tetap berkesinambungan. Investasi ini berasal dari pemerintah, perbankan, pasar modal, aliran modal yang masuk, Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), serta korporasi dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). "Sumber investasi non pemerintah di 2018 akan mengalami kenaikan di 2018," ucap Sri Mulyani.

Ia menyebut, investasi dari perbankan yang disalurkan melalui kredit. Meski terjadi perlambatan di 2016 dari Rp 279 triliun menjadi Rp 222 triliun di 2016, diperkirakan penyaluran kredit akan kembali meningkat menjadi Rp 370 triliun di 2017. Sedangkan prediksinya tumbuh 9,6 persen-10,7 persen di 2018.

Dari pasar modal, kata Sri Mulyani, investasinya mencapai Rp 778 triliun di 2017 atau naik signifikan dari realisasi Rp 598 triliun di 2016. Untuk pertumbuhan investasi dari pasar modal di tahun depan, diperkirakan mencapai 17 persen.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu lebih jauh menjelaskan, suntikan modal pemerintah ke BUMN pada 2015-2016, diharapkan dapat meningkatkan belanja modal perusahaan pelat merah. Pada tahun ini, proyeksinya mencapai Rp 430 triliun dan belanja modal BUMN di 2018 akan tumbuh 10,4 persen-10,8 persen.

Sementara PMA dan PMDN naik cukup besar. Sri Mulyani menuturkan, dari target investasi sebesar Rp 670 triliun di 2017, diperkirakan akan tumbuh tinggi 15,8 persen-15,9 persen di 2018. Selain itu investasi dari internal korporasi yang berasal dari surplus atau return earnings yang berkontribusi 41 persen tahun ini dan tumbuh 36 persen-39 persen di 2018.

"Kami harapkan iklim investasi terus positif, dan kami bisa menjaga investment grade serta konfiden dari para investor," pungkas Sri Mulyani.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya