Alih-alih hijrah ke negara yang lebih maju, pria asal Korea itu malah memilih berlabuh di Timor Leste. Ya, negeri “dunia keempat” yang dicap PBB sebagai negara termiskin di dunia. Alhasil, tidak lama Kim pun tersadar. Jangankan untuk berbisnis, untuk bisa hidup saja orang-orang di negeri itu sudah sangat bersyukur.
Menyaksikan keadaan Timor Leste yang sangat menyedihkan, mantan pesepakbola profesional Korea itu pun memutuskan meninggalkan negeri yang masih dalam cengkraman perang saudara tersebut. Saat dalam perjalanan ke bandara, Kim sempat menonton keriuhan sekumpulan bocah-bocah yang sedang bermain sepak bola dengan bertelanjang kaki.
Peluang bisnis? Inilah yang ada di benak Kim saat memperhatikan bocah-bocah kotor tersebut. "Aku mungkin bisa menghasilkan sejumlah uang dengan menjual sepatu kepada mereka," pikir Kim.
Kim pun mengurungkan niatnya untuk pulang. Tiba-tiba harapannya melambung tinggi. Ia pun membuka toko peralatan sepak bola di Timor Leste. Rupanya keputusan Kim hanyalah sebuah kesalahan. Bagi negeri yang sedang berada dalam "anomie", sepatu bola adalah barang mewah.
Tapi, Kim belum menyerah. Kim pun memutuskan untuk membagikan sepatu kepada bocah-bocah tersebut dan membolehkan mereka mencicilnya setiap hari. Satu dolar atau sekitar sepuluh ribu per hari.
Kian lama, uang yang dikumpulkan dari hasil kreditan sepatunya semakin mengerucut. Bahkan, seorang anak membawa seekor ayam sebagai ganti cicilan. Merasa sedih melihat kondisi mereka dan juga pesimistis usahanya akan berkembang, Kim pun banting setir.
Ia memutuskan untuk melatih para pelanggan setianya tersebut cara bermain sepak bola. Bukan hanya sepak bola. Pada akhirnya, Kim juga memberikan mereka harapan dan keberanian untuk bermimpi. Dan sebagai "imbalan"nya, bocah-bocah miskin itu mengajarkan Kim arti kepercayaan.
Karena merasa sama-sama terpuruk, Kim pun mer