Siswi Populer Berusia 16 Tahun Tewas dalam Ledakan Manchester

Seorang siswi populer dan disayangi orang-orang di sekitarnya menjadi salah satu korban ledakan Manchester.

oleh Alexander Lumbantobing diperbarui 24 Mei 2017, 07:21 WIB
Georgina Callander berfoto bersama bintang kesayangannya, Ariana Grande. (Sumber Instagram/@ArianaGrande)

Liputan6.com, Manchester - Korban pertama serangan bom bunuh diri saat konser Ariana Grande di Manchester Arena, Inggris, telah diidentifikasi sebagai seorang siswi populer berusia 18 tahun.

Georgina Callander adalah siswi Runshaw College di Leyland. Sekolah tersebut telah menerbitkan pernyataan dukacita terkait meninggalnya siswi mereka dalam ledakan Manchester.

Dikutip dari People pada Selasa (23/5/2017) pernyataan itu berbunyi, "Georgina adalah siswi muda yang disayangi dan sangat populer di antara sebayanya dan para staf serta selalu memanfaatkan sebaik-baiknya setiap kesempatan yang tersedia di sekolah."

"Hati dan doa kami disampaikan bagi keluarga Georgina pada saat yang menyedihkan ini. Dan secara khusus kami menyampaikan dukacita kepada abang-abangnya, Harry dan Daniel, yang juga mantan pelajar sekolah ini."

Harian Evening Standard melaporkan bahwa Callander meninggal dunia ketika ibunya berada di sisi ranjang rumah sakit.

Menurut seorang sahabatnya yang bernama Shelby Wharton (17) kepada harian itu, "Ia selalu terbuka dan bicara dengan semua orang. Ia sangat ramah. Kejadian ini seperti tidak nyata. Saya mendoakan keluarganya."

Pada Sabtu lalu, remaja itu berkicau bahwa ia "sangat senang" akan melihat bintang pop itu. Ia sempat berfoto bersama Ariana Grande dalam sebuah konser dua tahun lalu.

Georgina Callander, salah satu korban ledakan Manchester, adalah siswi yang disayangi orang-orang sekitarnya. (Sumber Twitter/@Sophie_Jauregui)

Chief Constable Ian Hopking mengatakan bahwa ledakan itu terjadi sekitar jam 10.33 malam waktu setempat di dekat kios tiket di luar arena. Serangan itu dilakukan oleh pelaku tunggal yang membawa bom, demikian menurut Hopkins.

"Si penyerang itu, dapat saya pastikan, meninggal di arena. Menurut kami, si penyerang membawa perangkat ledak dipercanggih, yang kemudian dipicunya, sehingga menyebabkan kejahatan ini."

Ia menambahkan, "Kami telah memperlakukan ini sebagai kejadian teroris dan menurut kami pada saat ini, serangan itu dilakukan oleh satu orang. Prioritas sekarang adalah untuk mengetahui apakah ia bertindak sendirian atau menjadi bagian dari suatu jejaring."

Sejumlah laporan menyebutkan sedemikian besarnya para penggemar muda, termasuk anak-anak, remaja, dan dewasa muda, di antara 21 ribu penonton konser.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya