Kisah Selam, Bocah Berusia 3 Juta Tahun

Selam adalah 'nenek moyang manusia', hominin jenis Australopithecus afarensis.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 15 Mei 2017, 16:00 WIB
Selam adalah 'nenek moyang manusia', hominin jenis Australopithecus afarensis (National Museum Addis Ababa)

Liputan6.com, Addis Ababa - Ia dikenal dengan nama Selam. Usianya baru tiga tahun saat meninggal. Dunia mengetahui keberadaannya lewat tulang tengkorak yang membatu alias jadi fosil.

Selam adalah 'nenek moyang manusia', hominin jenis Australopithecus afarensis -- pendahulu genus 'homo' -- yang hidup antara 3,9 hingga 2,9 juta tahun lalu.

Bagian tubuh Selam ditemukan di Dikika, Ethiopia pada tahun 2000. Butuh waktu beberapa tahun untuk memulihkan fosilnya.

Ahli paleoantropologi Ethiopia, Zeresenay Alemseged, yang menemukannya, menyebut Selam sebagai 'penemuan sekali seumur hidup'.

Fosil tersebut sangat menakjubkan, dari sisi usia dan kondisi. "Ia ditemukan di batuan pasir di daerah Dikika. Fosilnya, termasuk tengkorak, terpelihara dengan baik," kata Alemseged seperti dikutip dari The Vintage News, Senin (15/5/2017).

"Ada gigi susu, jari-jari kecil, torso, satu kaki, dan tempurung lutut yang tidak lebih besar dari kacang polong kering."

Selam kerap dijuluki 'Lucy’s baby' alias 'Bayinya Lucy' -- yang merujuk pada fosil berusia 3,3 juta tahun dan ditemukan di dekat lokasi ekskavasi Selam.

Meski punya nama julukan itu, Selam diduga puluhan ribu tahun lebih tua dari Lucy.

Lucy merupakan `nenek moyang` manusia dan termasuk ke dalam keluarga hominid atau kera besar (Doc: Mirror)

Temuan fosil Selam sangat penting karena memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pola pertumbuhan hominin, perkembangan ontogenetik mereka. Atau dengan kata lain, sangat penting untuk mempelajari evolusi manusia.

Bocah Tertua di Dunia

Fosil Selam, bocah tertua di dunia, ditemukan di Ethiopia (National Museum Addis Ababa)

Temuan soal fosil Selam dimuat di jurnal ilmiah, Nature pada tanggal 20 September 2006.

Fosilnya ditemukan beberapa kilometer di selatan Hadar -- situs terkenal dengan penemuan Lucy.

Karakteristik kerangkanya menunjukkan adaptasi untuk berjalan tegak, mirip dengan Lucy.

Awalnya, fosil tersebut diberi nama 'Selam' yang artinya 'damai'. Nama tersebut dipublikasikan dalam pengumuman oleh pihak Museum Nasional di ibu kota Ethiopia, Addis Ababa, saat menyampaikan soal temuan itu.

Lalu muncul artikel berjudul Salem yang ditulis oleh Zeresanay Alemseged, Fred Spoor, William H. Kimble, René Bobe, Denis Geraads, Denné Reed, dan Jonathan G. Wynn -- yang mempolerkan julukan baru itu.

"Tengkorak berjenis kelamin perempuan diperkirakan berusia tiga tahun, yang menunjukkan keberadaan sebagian besar fitur diagnostik spesies, bahkan sejak tahap awal pengembangan ini," demikian ditulis dalam artikel. 

"Temuan tersebut mencakup banyak elemen kerangka yang sebelumnya tidak diketahui dari dokumen hominid pada era Pliosen, termasuk tulang hyoid yang memiliki morfologi kera khas Afrika.

Sementara, kaki dan bukti lain yang ditemukan di tungkai bawah memberikan mengarah pada pergerakan bipedal atau berjalan dengan dua kaki. "Namun, skapula (tulang belikat)  seperti gorila dan falang (jemari tangan dan kaki) yang panjang dan melengkung menimbulkan pertanyaan baru tentang pentingnya perilaku arboreal (hewan-hewan yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas pepohonan atau belukar) pada A. afarensis."

Banyak ahli paleoanthropologi berpendapat, garis genus Homo -- termasuk Homo Sapiens -- berasal dari A. Africanus.

Maka dari itu sangat menarik bagaimana bayi Lucy atau Selam memiliki sifat manusia yang lebih banyak daripada spesimen A. Africanus lainnya. Menurut National Geographic, ia adalah bocah tertua di dunia.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya